Dark/Light Mode

Memperbaiki atau Membela

Jumat, 22 Mei 2026 08:11 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Kritik seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki. Namun dalam praktik kekuasaan, kritik sering lebih dulu diperlakukan sebagai ancaman yang harus dijawab. Akibatnya, energi negara habis untuk membela diri sebelum sempat memperbaiki keadaan.

Pola ini semakin terlihat ketika tekanan publik meningkat. Respons resmi muncul cepat—klarifikasi, bantahan, penjelasan. Negara bergerak sigap menjaga citra dan narasi. Namun di saat yang sama, akar persoalan justru bergerak lambat disentuh. Yang dipercepat adalah pembelaan, bukan pembenahan.

Baca juga : Wibawa yang Menipis

Membela diri memang naluri yang wajar. Tidak ada institusi yang nyaman disalahkan terus-menerus. Masalah muncul ketika pembelaan berubah menjadi kebiasaan. Kritik dipandang sebagai serangan politik, bukan sinyal adanya masalah yang perlu diselesaikan. Di titik itu, negara mulai kehilangan kemampuan reflektifnya.

Publik sebenarnya bisa menerima kesalahan. Yang sulit diterima adalah penolakan untuk belajar. Ketika warga melihat negara lebih sibuk menjaga reputasi daripada memperbaiki dampak, kepercayaan ikut melemah. Bukan karena negara salah, tetapi karena negara tampak tidak sungguh-sungguh memperbaiki.

Baca juga : Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir Komit Tingkatkan Layanan Puskesmas

Aaron Wildavsky dalam kajiannya tentang kebijakan publik menunjukkan bahwa institusi sering lebih fokus mempertahankan legitimasi daripada mengevaluasi efektivitas kebijakan (Speaking Truth to Power, 1979). Dalam kondisi seperti ini, kritik tidak menghasilkan pembelajaran, melainkan hanya memicu pertahanan birokratis.

Padahal memperbaiki tidak selalu melemahkan wibawa. Justru sebaliknya. Negara yang mampu mengakui kekurangan dan bergerak cepat melakukan koreksi akan lebih dipercaya dibanding negara yang terus membela diri tanpa perubahan nyata. Kepercayaan tumbuh dari keberanian memperbaiki, bukan dari kemampuan menjelaskan.

Baca juga : Negara yang Dipertanyakan

Pilihan akhirnya sederhana: memperbaiki atau membela. Negara yang terlalu sibuk membela diri akan tertinggal dari realitas yang terus bergerak. Sebaliknya, negara yang berani memperbaiki menunjukkan bahwa kekuasaan masih memiliki tujuan moral—bukan sekadar mempertahankan diri dari kritik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.