Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Suara publik tidak langsung keras. Ia biasanya dimulai dari keluhan kecil, kritik yang hati-hati, dan pertanyaan yang masih penuh harapan. Namun ketika respons tidak datang, nada mulai berubah. Yang awalnya meminta perhatian perlahan berubah menjadi tuntutan.
Mei memperlihatkan perubahan itu. Kritik terhadap layanan, harga, dan arah kebijakan mulai terdengar lebih tajam. Bukan semata karena situasi memburuk, tetapi karena akumulasi rasa tidak didengar. Publik tidak lagi sekadar mengeluh; mereka mulai mempertanyakan kesungguhan negara dalam merespons.
Baca juga : Yang Tertinggal Lagi
Negara sering salah membaca fase ini. Kritik yang mengeras dianggap sebagai gangguan stabilitas atau serangan politik. Padahal dalam banyak kasus, itu adalah tanda bahwa jalur komunikasi normal sudah tidak cukup dipercaya. Ketika suara pelan diabaikan terlalu lama, volume akan naik dengan sendirinya.
Masalahnya bukan pada kerasnya suara, melainkan pada keterlambatan mendengar. Kritik yang sejak awal direspons dengan jujur dan terbuka jarang berkembang menjadi kemarahan kolektif. Sebaliknya, kritik yang diabaikan atau diremehkan akan mencari bentuk lain yang lebih keras.
Baca juga : Keadilan yang Diuji Lagi
Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970) menegaskan bahwa kelompok yang terus-menerus tidak didengar akan mencari cara baru untuk merebut ruang suaranya. Dalam konteks politik, suara yang mengeras sering bukan awal masalah, melainkan akibat dari pengabaian yang panjang.
Di titik ini, negara perlu memilih cara merespons. Membela diri mungkin memberi rasa aman sesaat, tetapi tidak menyelesaikan akar persoalan. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk mendengar tanpa defensif, memperbaiki tanpa menunggu tekanan membesar, dan mengakui bahwa kritik adalah bagian dari kesehatan demokrasi.
Baca juga : Dampak yang Tak Diakui
Suara yang diabaikan akan berubah nada. Itu bukan ancaman, melainkan hukum sosial yang berulang. Negara yang bijak memahami bahwa mendengar lebih awal jauh lebih murah daripada menghadapi ledakan ketidakpercayaan di kemudian hari.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.