Dark/Light Mode

Wibawa yang Menipis

Rabu, 20 Mei 2026 08:29 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Wibawa tidak runtuh dalam semalam. Ia menipis perlahan—melalui keputusan yang tidak konsisten, janji yang terlalu sering tertunda, dan respons yang kehilangan empati. Kekuasaan mungkin masih memiliki otoritas formal, tetapi otoritas moralnya mulai melemah.

Banyak orang mengira wibawa hilang karena serangan lawan politik atau kritik publik. Padahal yang lebih sering terjadi justru sebaliknya: wibawa melemah karena tidak dijaga dari dalam. Ketika kata dan tindakan semakin berjauhan, penghormatan publik ikut berkurang.

Baca juga : Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir Komit Tingkatkan Layanan Puskesmas

Mei memperlihatkan gejala itu dengan cukup jelas. Negara masih mampu mengatur, mengumumkan, dan mengendalikan prosedur. Namun di tingkat sosial, muncul nada skeptis yang semakin terasa. Kebijakan tidak lagi diterima dengan keyakinan yang sama seperti sebelumnya. Publik mulai mendengar dengan jarak.

Wibawa berbeda dengan kekuasaan. Kekuasaan dapat memerintah melalui aturan dan struktur. Wibawa lahir dari kepercayaan bahwa kekuasaan dijalankan secara layak. Ketika rasa itu hilang, negara mungkin tetap ditaati, tetapi tidak lagi dihormati.

Baca juga : Negara yang Dipertanyakan

Richard Sennett dalam Authority (1980) menjelaskan bahwa otoritas moral bertahan bukan karena dominasi, tetapi karena adanya hubungan kepercayaan antara yang memimpin dan yang dipimpin. Hubungan ini rapuh. Sekali terkikis, ia sulit dipulihkan hanya dengan simbol atau pencitraan.

Masalahnya, menjaga wibawa membutuhkan disiplin moral yang konsisten. Mengakui kesalahan, menepati komitmen, dan menjaga keadilan dalam keputusan sehari-hari. Hal-hal kecil inilah yang sebenarnya menopang legitimasi jangka panjang. Tanpa itu, wibawa perlahan berubah menjadi formalitas kosong.

Baca juga : Kepercayaan atau Formalitas

Wibawa yang menipis adalah tanda bahwa negara perlu kembali memeriksa dirinya sendiri. Bukan sekadar memperbaiki komunikasi, tetapi memperbaiki cara bekerja dan cara memperlakukan publik. Sebab wibawa tidak hilang karena diserang, tetapi karena terlalu lama dibiarkan tanpa penjagaan moral.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.