Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Pergantian pejabat selalu menarik perhatian. Nama dibahas. Karakter dinilai. Kesalahan dibedah. Apa motifnya. Dan sebagainya. Padahal, ada pertanyaan yang tak kalah pentingnya. Bagaimana jika masalah utamanya bukan hanya pada orang?
Karena, di balik “orangnya”, ada tantangan besar: bagaimana mengubah gagasan besar dan mulia menjadi pelayanan yang benar-benar sampai ke rakyat. Bagaimana membangun sistem pelaksana yang siap dan tahan uji. Kapan pun. Di mana pun.
Sejauh ini, Indonesia telah melahirkan banyak visi serta gagasan besar. Juga sangat mulia. Namun, yang sering kurang adalah mesin pelaksana. Eksekusinya di lapangan.
Tak heran, dari lapangan muncul istilah-istilah yang “Indonesia banget”. Misalnya, “uang kopi, uang rokok, uang lelah” dan sebagainya. Nilainya ratusan ribu sampai ratusan miliar bahkan triliunan.
Baca juga : Juni, Bukan Sekadar Nostalgia
Di sinilah tantangan sebenarnya, yakni membangun sistem yang mampu menjalankan kebijakan secara konsisten setiap hari. Ya, setiap hari. Setiap saat.
Beberapa negara maju memahami hal ini sejak lama. Mereka membangun prosedur yang kuat. Sistem audit yang ketat. Pengukuran kinerja yang brutal. Fokusnya bukan mencari pahlawan, atau mencari “orang hebat”. Mereka menciptakan institusi yang tetap bekerja bahkan ketika orang-orang di dalamnya berganti.
Apa pun programnya, keberhasilannya bukan semata-mata karena pemimpinnya visioner. Tapi juga karena kemampuan mengubah visi besar tersebut menjadi rutinitas administratif yang disiplin dan terukur.
Rutinitas itu mungkin terdengar membosankan. Sangat teknis. Tapi begitulah semestinya. Misalnya, data yang akurat. Pengawasan yang konsisten. Standar yang jelas dan ketat. Penegakan hukum yang adil. Evaluasi yang jujur, serta koreksi yang cepat.
Baca juga : Demokrasi Tanpa Sanksi
Karena itu, setiap kali ada pejabat yang dicopot, di instansi mana pun, selain membedah “apa ada kesalahan fatal, dan kalau ada harus diproses hukum”, juga ada hal lain yang perlu diperhatikan. Misalnya, apakah nantinya sistemnya akan menjadi lebih kuat dan lebih baik?
Sebab, ukurannya tidak berhenti pada “ditemukannya orang hebat dan tepat” sebagai menteri atau pejabat. Tidak hanya sampai di situ.
Ujian sesungguhnya yakni ketika sudah menjabat. Pertama, apakah orang hebat itu tidak mudah tergoda. Apa pun. Apakah dia masih benar-benar hebat, atau berubah?
Kedua, terlihat pada kemampuannya membangun institusi yang tetap hebat ketika orang-orang hebat itu sudah tidak lagi berada di sana. Dan, di situlah masa depan Indonesia dipertaruhkan.
Baca juga : Masa Depan Digadaikan
Untuk itu, Indonesia perlu naik kelas. Bukan lagi sekadar melahirkan program besar dan mulia. Di level ini, Indonesia sudah khatam.
Kita perlu naik lagi menjadi negara yang pandai mengorkestrasi dan mengoptimalkan ribuan aktor sekaligus. Sampai ke urusan-urusan kecil di lapangan. Dan, tentu saja, programnya berhasil.
Karena, di era yang super cepat dan super detail seperti sekarang, kesalahan kecil di pusat bisa menjadi bencana besar di lapangan. Sebaliknya, persoalan-persoalan “kecil” di lapangan bisa menjadi kasus viral dan problem yang menasional.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.