Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Piala Dunia selalu dijual dengan satu janji besar: pertumbuhan dan manfaat ekonomi.
Hotel penuh. Restoran ramai. Bandara sibuk. Kota-kota tuan rumah bersolek. Uang berputar dalam jumlah yang sulit dibayangkan.
Pada Piala Dunia 2026, FIFA memperkirakan dampak ekonomi mencapai puluhan miliar dolar AS. Sejumlah studi bahkan menyebut kontribusi ekonomi turnamen ini dapat menembus lebih dari 40 miliar USD di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko secara gabungan. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 710 triliun!
Angka yang menggiurkan ini membuat banyak negara atau daerah bermimpi menjadi tuan rumah event olahraga besar. Namun di balik gemerlap itu, muncul pertanyaan yang sering terlupakan.
Siapa yang benar-benar menikmati keuntungan?
Pertanyaan ini penting. Sebab, pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa pesta olahraga sering kali menghasilkan manfaat yang tidak merata. Hotel besar mendapat tamu. Maskapai memperoleh penumpang. Sponsor memperoleh eksposur global. Pemilik aset wisata menikmati kenaikan nilai bisnis.
Baca juga : Tikus Tak Lagi Takut Kucing
Tetapi masyarakat biasa belum tentu ikut menikmati pesta yang sama. Kadang yang mereka rasakan justru kenaikan harga, kemacetan, atau penggunaan anggaran publik dalam jumlah besar untuk kebutuhan yang manfaatnya tidak selalu bertahan lama.
Indonesia sebenarnya tidak perlu jauh-jauh belajar. Kita punya pengalaman sendiri melalui Pekan Olahraga Nasional (PON).
Setiap PON hampir selalu dimulai dengan optimisme. Infrastruktur dibangun. Venue diperbanyak. Anggaran digelontorkan. Daerah tuan rumah berharap memperoleh efek ekonomi berlipat.
Sayangnya, masalah sering muncul setelah api obor padam. Venue yang megah mulai sepi. Biaya pemeliharaan membengkak. Aktivitas olahraga tidak cukup untuk menghidupkan fasilitas yang sudah dibangun.
Bahkan dalam beberapa kasus, persoalan administrasi, pemanfaatan venue, dan dugaan korupsi masih tersisa jauh setelah pertandingan selesai.
Karena itu, PON 2028 di NTB dan NTT memiliki kesempatan langka untuk memutus siklus lama tersebut.
Baca juga : Korsel Dan Cermin Senayan
Menariknya, pemerintah dan penyelenggara mulai mengusung pendekatan yang lebih realistis.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah memaksimalkan fasilitas yang sudah ada dan menghindari pembangunan venue baru yang mahal.
Pendekatan efisiensi ini menjadi sinyal bahwa ukuran keberhasilan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh banyaknya bangunan yang berdiri.
Pelajaran terbesar dari Piala Dunia 2026 dan beberapa kali PON, sebenarnya sederhana. Warisan sebuah pesta olahraga bukanlah stadion. Warisannya adalah manfaat.
Kalau setelah PON 2028 jalan raya menjadi lebih baik, destinasi wisata NTB dan NTT lebih dikenal, UMKM naik kelas, atlet memperoleh pembinaan yang berkelanjutan, dan fasilitas olahraga terus hidup bertahun-tahun setelah pertandingan berakhir, maka PON itu sukses.
Sebaliknya, jika yang tersisa hanya bangunan besar yang jarang dipakai dan tagihan pemeliharaan yang terus membengkak, maka pesta itu sesungguhnya hanya berlangsung dua minggu.
Baca juga : Garuda di Pintu Piala Dunia
Karena dalam olahraga, seperti dalam pembangunan, yang paling penting bukanlah kemeriahan saat pembukaan, peletakan batu pertama, atau gunting pita. Melainkan kehidupan yang bisa berjalan lebih baik ketika lampu stadion sudah dimatikan.
Dari Piala Dunia 2026 kita bercermin. Kita bisa belajar baik-buruknya.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 21 Juni 2026 dengan judul "Piala Dunia Milik Siapa?"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.