Dark/Light Mode

Kolam Jernih, Airnya Keruh

Minggu, 1 November 2026 05:59 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Singapura tidak langsung mengambil uang kita. Kita sendiri yang “mengirimnya”.Singapura sangat tahu dan pandai sekali memanfaatkan kelemahan pejabat dan birokrasi Indonesia.

Puluhan tahun, hasil korupsi maupun hasil usaha di Indonesia mengalir ke seberang selat. Bank-bank di sana menerima. Properti di sana menampung. Singapura menaklukkan Indonesia dengan caranya sendiri.

Kini angin mulai berbalik. Perjanjian ekstradisi diteken pada 2022. Beberapa orang yang terseret kasus-kasus korupsi mulai ketar-ketir. Banyak yang menilai, ini satu kemajuan. Wajar. Tapi jangan terburu-buru merayakannya.

Sebab, sisi “pasokannya” (masih) ada di rumah kita sendiri. Ada pejabat yang menjual kewenangan. Pengusaha yang membeli kemudahan. Penegakan hukum yang memilih-milih sasaran. Korupsinya masih sangat mengkhawatirkan.

Baca juga : Survive Ala Indonesia

Selama pasokan itu mengalir, kolam baru selalu tersedia. Di mana pun. Kalau hari ini di Singapura, besok negara lain bisa saja ikut menampungnya. Kalau satu pintu ditutup, rumah lainnya akan terbuka lebar. Sesederhana itu.

Jadi, tantangannya bukan hanya menekan negara lain. Menekan lingkaran sendiri, memberantas korupsi di dalam negeri, bisa lebih efektif. Dan jauh lebih penting.

Saat ini, tekad untuk memberantas korupsi tampak kuat. Ini modal berharga. Namun, waktu tampaknya kurang berpihak. Masa jabatan Presiden Prabowo paling lama delapan tahun lagi, kalau terpilih kembali. Itu pun sudah dipotong hiruk-pikuk “tahun politik”.

Harapan kita, energi politiknya bisa terus menggelegar. Sehingga, ada legacy luar biasa yang bisa diwariskan. Legacy itu, misalnya, negara ini tidak mudah lagi dilecehkan negara lain. Kemudian ada juga keberhasilan memberantas korupsi tanpa pandang bulu.

Baca juga : Tanah Dan Kalkulator

Kalau hari-hari ini “pintu” Singapura sedang diupayakan untuk ditutup. Itu perlu. Harus dilakukan. Tapi, koruptor tidak lahir di Singapura. Mereka lahir di kementerian, di lembaga dan instansi, di ruang rapat proyek, di meja perizinan. Di dalam negeri kita sendiri.

Jangan juga berharap Singapura akan berdiam diri. Mereka sangat tahu kelemahan para pejabat, birokrasi dan pengusaha kita. Mereka akan terus membangun kolam yang jernih dan nyaman untuk menampung ikan dari air yang keruh.

Ibaratnya, “tak peduli tikus hitam atau putih yang penting bisa membawa padi, dari mana pun, untuk mengisi lumbung”.

Karena itulah, Indonesia harus bisa melahirkan dan mengembangbiakkan kucing-kucing ganas pemberantas korupsi. Tak peduli warnanya apa. Yang penting bisa menangkap tikus apa pun, di mana pun, kapan pun.

Baca juga : Strategi Dua Jalur

Babak selanjutnya, kita tinggal menunggu hasilnya. Kita tunggu pemenangnya: tikus cerdik ataukah kucing ganas.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 1 November 2026 dengan judul "Kolam Jernih, Airnya Keruh"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.