Dark/Light Mode
- Sabtu Berkah Bareng Ojol, Kapolda Metro Jaya Ajak Pengemudi Utamakan Keselamatan
- Menperin: Pendidikan Vokasi Kunci Cetak SDM Industri Unggul
- Nawakara Edukasikan Generasi Muda Soal Keamanan Hingga Kepedulian Lingkungan
- BRI Peduli Salurkan 270 Unit Mesin Pompa Air Bantu Kendalikan Api di Kalimantan
- Pemprov DKI Siapkan 11 Rusun dalam APBD 2027, Rorotan dan Marunda Prioritas
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah kembali melarang mudik tahun ini. Katanya takut terjadi lonjakan Covid. Apa ada korelasinya mudik dengan melonjaknya kasus Covid?
Baca juga : Kocok Ulang Kabinet?
Pemerintah dan publik terus dihinggapi cemas sekaligus heboh, korban Covid-19 melonjak tajam. Semua mengeluh dan teriak: kenapa bisa, kok bisa sih, melonjak tajam? Ujungnya, kalau nggak nyalahin pemimpin, ya nyalahin kebijakannya.
Kebijakan pembatasan sosial di banyak kota-kota termasuk pelarangan mudik ini disangsikan efektivitasnya oleh publik. Kebijakan tersebut dianggap gagal menahan laju lonjakan jatuhnya korban Covid. Pertanyaannya lalu, mana yang benar, atau apa sih sesungguhnya yang terjadi?
Baca juga : Kengototan Pindah Ibu Kota
Sesungguhnya banyak sekali paradoks kebijakan. Fakta nyatanya adalah sekarang publik mendapat akses lebih massif kepada alat tes Covid dan pebisnis alat Covid sudah sangat agresif dan menjamur di kota bahkan ke daerah-daerah.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.