Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dubes Talip Kucukcan Peringati 10 Tahun Percobaan Kudeta Di Ankara
Sabtu, 18 Juli 2026 06:24 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Demokrasi yang kuat didapat dari perjuangan rakyat dan pemimpinnya. Itulah prinsip yang dipegang teguh warga Turki. Duta Besar (Dubes) Turki untuk Indonesia Talip Kucukcan me¬lngatakan, setelah mengalami lima kali percobaan kudeta oleh kelompok radikal, Ankara semakin kuat dari guncangan dalam dan luar negeri.
Hal itu disampaikan Dubes Kucukcan dalam peringatan 10 tahun percobaan kudeta 15 Juli 2016 di St. Regis Hotel, Jakarta, Rabu (15/7/2026). Acara itu bertajuk, 15th July Democracy and National Unity Day.
“Lima kali percobaan kudeta menjadi pelajaran penting bagi kami untuk memperkuat institusi demokrasi, konstitusi, serta kesadaran masyarakat dalam menjaga sistem pemerintahan yang demokratis,” katanya.
Menurutnya, salah satu pelajaran terbesar dari peristiwa tersebut adalah perubahan politik harus ditempuh melalui mekanisme demokrasi, bukan kekerasan.
“Kalau ingin melakukan perubahan sosial maupun politik, jangan menggunakan kekerasan ataupun agama. Ada jalan yang wajar dan tidak merusak,” tegasnya.
Dubes yang juga akademisi ini mengatakan, pengalaman tersebut juga membuat berbagai elemen di Turki, mulai dari media, organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi, hingga partai politik, bisa solid dalam menjaga nilai-nilai demokrasi.
Baca juga : Tinjau RSUD Jambi, Wapres Pastikan Penguatan Layanan Kesehatan Berlanjut
“Apa yang kami miliki saat ini adalah demokrasi yang lebih kuat dan lebih tangguh dibandingkan 10 tahun setelah percobaan kudeta itu terjadi,” ungkapnya.
Dalam panel diskusi, Dubes Ku¬mcukcan mengingatkan, upaya kudeta tidak hanya terjadi di Turki. “Ini bisa terjad di negara manapun. Negara demokrasi manapun rentan perpecahan dari dalam,” ucapnya.
Insiden percobaan kudeta militer pada 15 Juli 2016 di Turki, menurutnya, merupakan contoh nyata. “Dari pandangan negara luar, mungkin terlihat konyol. Kami sempat mendapat kritikan dari negara sahabat, khususnya dari negara-negara Eropa,” ungkapnya.
Kenapa? Karena saat kudeta terjadi, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengajak rakyat turun ke jalan dan melindungi negara. Puluhan ribu rakyat turun ke jalan dan menghadang kendaraan lapis baja milik militer.
“Akibatnya, 252 orang tewas dan lebih dari 2.000 lainnya terluka. Ini harga yang kami bayar untuk sebuah demokrasi,” ungkap Dubes Kucukcan.
Dia menggarisbawahi penting¬nya berbagi pelajaran yang dipetik dari pengalaman Turki dengan negara-negara sahabat dan sekutu.
Baca juga : RUU Daerah Kepulauan Upaya DPD Akhiri Paradigma Pembangunan Berorientasi Daratan
“Penting juga bagi Turki dan Indonesia memperkuat kerja sama di bidang demokrasi dan ketahanan institusional,” imbuhnya.
Panel diskusi yang dimoderatori Associate Professor dari Ankara Yilidrim Beyazit University Oguz Guner menghadirkan dosen dari Department of International Relations Haci Bayram Veli University Erman Akilli, alumnus Turki yang juga dosen di Universitas Indonesia Muhammad Syaroni Rofii dan dosen dari Universitas Islam Negeri Syarif Hodayatullah Jakarta Deden Mauli Darajat.

Dalam panel diskusi Erman Akilli mencatat, demokrasi merupakan salah satu sumber utama soft power Turki di kancah internasional.
“Perlawanan masyarakat yang ditunjukkan pada 15 Juli merupakan wujud paling kuat dari legitimasi demokratis dan kehen¬dak nasional,” ujarnya.
Selanjutnya, Muhammad Syaroni Rofii menyampaikan, upaya kudeta 15 Juli lebih banyak dipersepsikan publik global melalui sudut pandang yang dibentuk oleh kantor berita asing.
Meski demikian, Turki memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas kawasan dengan tetap mempertahankan tatanan demokrasinya.

Baca juga : Menhut Evaluasi Standar Kebutuhan Personel dan Peralatan Manggala Agni
Kemampuan Turki untuk mengembalikan stabilitasnya tanpa mendengar celotehan publik internasional adalah hal yang perlu dicontoh.
“Turki menjalankan demokrasi dengan tegas dan tertata. Pelaku ditangkap. Kroni yang terkait kelompok pemicu kudeta juga diringkus dan dijatuhi hukuman. Negara kembali normal,” ujar Rofii.
Deden Mauli Darajat mengungkap pengalaman pendidikannya di Turki. Menurut dia, setiap demokrasi berkembang sesuai dengan dinamika sejarah dan sosialnya yang khas. Komitmen Turki untuk memperkuat institusi demokrasi dan kohesi sosial merupakan hal krusial dalam menjaga tatanan konstitusional.
Usai panel diskusi selama kurang lebih 45 menit, para tamu undangan diajak menonton film berjudul 15/07 Break of Dawn.
Selanjutnya, para tamu juga bisa menikmati suguhan cemilan sambil melihat 20 foto pilihan yang merekam upaya kudeta 10 tahun lalu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya