Dark/Light Mode

Dongeng Horor Leicester City

Senin, 17 Agustus 2026 06:20 WIB
Leicester City kala menjadi juara Liga Inggris 2015/2016. (Foto: Istimewa)
Leicester City kala menjadi juara Liga Inggris 2015/2016. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sempat menjadi jawara, Leicester kini terpuruk di kasta ketiga Liga Inggris. Bangkrut, pemilik hendak menjual seluruh aset klub senilai Rp 5 triliun.

Kisah Leicester City bagaikan dongeng indah yang menjadi horor. Pada 2016, The Foxes secara mengejutkan menjadi juara Premier League. Namun, satu dekade berselang, klub tersebut justru terpuruk hingga harus bersiap dijual. 

Awalnya, dongeng indah Leicester tidak lepas dari investasi besar keluarga pengusaha asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha. Vichai membeli Leicester pada 2010 melalui King Power dan secara bertahap membangun klub hingga mampu bersaing di level tertinggi. 

Baca juga : Kejuaraan Dunia BWF 2026, Fajar/Fikri Incar Hattrick Di India

Namun, setelah meraih gelar, Leicester mulai kehilangan sejumlah pemain penting. N’Golo Kante pindah ke Chelsea, sedangkan Riyad Mahrez ke Manchester City. Sejumlah pemain lain yang menjadi bagian penting dari tim juara juga meninggalkan klub. 

Tragedi besar kemudian menimpa Leicester pada 2018. Vichai meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter di sekitar Stadion King Power setelah menghadiri pertandingan Leicester. 

Kepemimpinan klub kemudian diteruskan putranya, Aiyawatt. Keluarga Srivaddhanaprabha tetap berupaya mempertahankan Leicester. Namun, masalah di dalam dan luar lapangan kembali menghantam. Leicester terdegradasi dari Premier League pada musim 2022/2023. Mereka hanya membutuhkan satu musim untuk kembali ke kasta tertinggi setelah menjadi juara Championship 2023/2024. 

Baca juga : Meski Nyeker, Anak-anak Gaza Happy Dapat Medali

Namun, Leicester kembali terdegradasi pada musim 2024/2025. Masalah semakin pelik ketika Leicester harus menjalani musim 2025/2026 di Championship. Klub dijatuhi pengurangan poin setelah dinilai melanggar aturan Profitability and Sustainability Rules (PSR). 

Kombinasi persoalan finansial dan performa buruk akhirnya membuat Leicester terdegradasi lagi. Mereka akan bermain di League One atau kasta ketiga sepakbola Inggris pada musim 2026/2027. 

Sejak 2021, Leicester terus mencatat kerugian besar. Kerugian yang dibukukan mencapai total 71 juta Paun (Rp 1,73 triliun). Leicester kini ditawarkan kepada calon investor melalui proyek yang disebut Project Lineup. Harga yang dibuka mencapai 222 juta Paun (Rp 5,4 triliun). Penawaran tersebut tidak hanya mencakup kepemilikan tim sepakbola. Seluruh portofolio utama ikut ditawarkan. Yakni Stadion King Power, pusat latihan Seagrave, serta kompleks Belvoir Drive. Ketiga aset tersebut diperkirakan memiliki nilai sekitar 204 juta Paun (Rp 5 triliun). [GO]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.