Dark/Light Mode

Kunjungi Persemaian Rumpin, Jurnalis Pelajari Peran Strategis Rehabilitasi dalam Agenda FOLU Net Sink 2030

Sabtu, 17 Mei 2025 22:29 WIB

Workshop jurnalis bertema “Menguatkan Peran Media dalam Mendukung Agenda Indonesia’s FOLU Net Sink 2030” berlanjut dengan kunjungan lapangan ke Persemaian Rumpin, Bogor, pada Sabtu (17/5). Dalam kunjungan ini, para jurnalis mendapat pemahaman langsung mengenai peran persemaian modern dalam mendukung target penyerapan emisi karbon melalui program rehabilitasi dan penanaman pohon dalam skema FOLU Net Sink 2030.

Persemaian Rumpin, yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2021, merupakan salah satu pusat persemaian terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi hingga 12 juta bibit pohon per tahun. Fasilitas ini menjadi tulang punggung program rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), restorasi ekosistem, serta penghutanan kembali yang menjadi bagian integral dalam strategi nasional mencapai FOLU Net Sink 2030.

“Persemaian Rumpin tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembibitan, tetapi juga sebagai pusat edukasi, konservasi, dan inovasi dalam pengelolaan lanskap berkelanjutan,” ujar Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum-Ciliwung, Heru Permana.

Menurut Heru, bibit dari Persemaian Rumpin telah didistribusikan ke berbagai daerah untuk mendukung rehabilitasi hutan kritis dan lahan terdegradasi, termasuk di kawasan DAS prioritas. Penanaman pohon secara masif ini tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemulihan ekologis, tetapi juga menjadi solusi alami dalam menyerap emisi karbon dari atmosfer.

Ketua Harian II Tim Indonesia FOLU Net Sink 2030, Haruni Krisnawati, menambahkan bahwa rehabilitasi lahan melalui penanaman pohon berkontribusi besar terhadap target penurunan emisi. Dari total target pengurangan sebesar -140 juta ton CO₂e di sektor FOLU, sebagian besar dicapai melalui peningkatan tutupan hutan dan pemulihan vegetasi seperti yang dilakukan di Persemaian Rumpin.

“Setiap pohon yang ditanam adalah bagian dari solusi iklim. Dengan pendekatan berbasis lanskap, rehabilitasi yang efektif mampu meningkatkan fungsi ekosistem, menjaga keanekaragaman hayati, dan mengurangi risiko bencana iklim seperti banjir dan kekeringan,” jelas Haruni.

Dalam sesi diskusi, pakar komunikasi keberlanjutan sekaligus Rektor UPN Veteran Jakarta, Anter Venus, menekankan pentingnya narasi positif dan berbasis data dalam pemberitaan isu perubahan iklim.

“Media harus mampu menyampaikan pesan bahwa solusi iklim itu nyata dan sedang berlangsung, seperti yang kita lihat di Rumpin. Ini penting untuk membangun optimisme publik,” katanya. Ia juga menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai agenda FOLU Net Sink 2030, karena sinergi pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) hanya dapat dicapai melalui komunikasi yang berkelanjutan.

“Tidak ada cara yang lebih efektif untuk mendorong perubahan perilaku dan partisipasi berbagai pihak dalam pengurangan emisi GRK selain melalui komunikasi yang konsisten dan persuasif. Komunikasi lingkungan yang tepat akan menjadi kekuatan besar dalam mempercepat pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia sesuai komitmen Paris Agreement,” lanjutnya.

Sementara itu, perwakilan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Trisia Megawati, menyampaikan bahwa sektor swasta siap berkontribusi dalam agenda rehabilitasi dan restorasi, khususnya melalui skema investasi hijau dan kerja sama multipihak.

“Anggota APHI telah mengembangkan berbagai persemaian canggih untuk mendukung penanaman di areal konsesi perusahaan. Pusat persemaian bukan sekadar tempat pembibitan, tetapi merupakan tulang punggung dari aktivitas penanaman di hutan produksi,” jelas Trisia.

Kunjungan ke Persemaian Rumpin ini merupakan bagian dari rangkaian workshop yang diselenggarakan oleh Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, dengan dukungan Climate Promise UNDP. Tujuannya adalah memperkuat pemahaman jurnalis terhadap agenda FOLU Net Sink 2030 dan mendorong keterlibatan aktif media dalam mendukung aksi iklim nasional.

Melalui kegiatan lapangan ini, para peserta tidak hanya mendapatkan wawasan teknis, tetapi juga menyaksikan langsung upaya konkret dalam pengembangan bibit unggul yang menjadi fondasi gerakan menanam demi masa depan lingkungan Indonesia yang lebih lestari.

 

Videografer & Editor:

Hendrawan K Wijaya