Sebelumnya
Kebijakan Tes Kompetensi Akademik (TKA) akan menggantikan Ujian Nasional (UN) dan dijadwalkan November 2025 untuk kelas akhir. Dari pandangam Anda, apa tujuan awal TKA ini?
Pada dasarnya, TKA dirancang untuk mengukur kemampuan dan pengetahuan siswa di berbagai mata pelajaran. Tujuannya adalah sebagai salah satu indikator dalam seleksi masuk perguruan tinggi atau jenjang pendidikan selanjutnya.
Jadi, TKA ini tidak menentukan kelulusan siswa?
Betul. TKA tidak menentukan kelulusan siswa. Hasilnya hanya menjadi bagian dari penilaian dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMP dan SMA, serta seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi.
Baca juga : Lalu Hadrian Irfani: TKA Bukan Satu-satunya Indikator Keberhasilan
Apakah FSGI melihat ada potensi masalah dalam pelaksanaan TKA ini?
FSGI khawatir persoalan seperti pelaksanaan ujian nasional akan terjadi lagi di TKA ini. Meskipun TKA tidak wajib, tapi jika menjadi syarat untuk ke jenjang berikutnya, ini berpotensi menimbulkan kecemasan. Potensi kecurangan sangat mungkin terjadi karena dianggap akan menentukan masa depan si anak.
Apa saja kekhawatiran spesifik yang FSGI lihat dari TKA ini?
Karena TKA juga akan menguji mata pelajaran tertentu, terbuka kemungkinan siswa hanya akan fokus mempelajari mata pelajaran tertentu saja, semisal Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA. Belum lagi kecenderungan munculnya labelisasi anak pintar, anak mampu, kurang mampu, dan lain sebagainya, yang akan terlihat dari usaha dan hasil mereka dalam menghadapi TKA. Jika faktor guru sedekah nilai yang dikhawatirkan Pak Menteri, seyogianya dicarikan sistem atau aturan penilaian yang lebih baik.
Baca juga : Komisi V Panggil Menhub
Dengan sistem yang sebelumnya bagaimana menurut Anda?
Bagaimanapun, sistem yang sudah dilaksanakan kemarin telah disinkronisasi dengan sistem penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi melalui tes skolastik. Artinya, dengan TKA ini kita belum tahu bagaimana perguruan tinggi nantinya akan melakukan penyesuaian kembali.
Selain ada kebijakan TKA, di sisi lain ada kebijakan “Deep Learning”, bagaimana anda melihatnya?
Ini cukup kontradiktif. Kebijakan Mendikdasmen untuk penerapan pembelajaran mendalam, yaitu Deep Learning, Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning, sangat menitikberatkan pada proses pembelajaran. Ini justru bertolak belakang dengan TKA yang akan menguji produk belajar. NNM
Baca juga : Menkop Minta Masyarakat Awasi Koperasi Desa Merah Putih
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Rabu, 23 Juli 2025 dengan judul "Pengganti Ujian Nasional, Kemendikdasmen Terapkan TKA, Mansur: Potensi Kecurangan Masih Mungkin Terjadi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.