BREAKING NEWS
 

Ramai Grup WA Berisi Konten Negatif, Anak-anak Jadi Target

Ibnu Dwi Cahyo: Kepolisian Perlu Lakukan Penyelidikan Lebih Dalam

Reporter : NANA MAULANA
Editor : DEDE HERMAWAN
Sabtu, 5 September 2026 07:10 WIB
Ibnu Dwi Cahyo, Direktur Eksekutif Siber Sehat Indonesia. Foto: IG PRIBADI

 Sebelumnya 
Apa tanggapan Anda dengan viralnya grup WhatsApp yang menargetkan anak-anak dengan konten orientasi seksual?

Modus semacam ini sangat sering dilakukan, terutama bagaimana para pelaku melakukan social engineering psikologis lewat grup WA “Add People as Much as You Can”. Dari nama grup saja, itu sudah seperti ajakan kepada para anggota untuk mengajak teman-teman dan orang yang dikenal masuk ke grup. Yang paling berbahaya kemungkinan digital grooming yang dilakukan oleh pembuat grup.

Apa yang membuatnya berbahaya?

Karena yang disasar adalah anak-anak.

Baca juga : Komisi IX: RUU Ketenagakerjaan Atur Jaminan Pesangon Pekerja

Apa yang seharusnya dilakukan Pemerintah maupun aparat penegak hukum?

Untuk aparat Kepolisian, perlu dilakukan penyelidikan lebih dalam. Kita ketahui juga bahwa dalam riwayat chat yang dibaca oleh orang tua salah satu anak anggota grup WA tersebut, ditemukan pertanyaan tentang orientasi seksual kepada anggota dan juga berbagai stiker yang mengarah pada orientasi seksual.

Apakah tindakan tersebut juga mengarah kepada tindakan terlarang?

Iya. Karena konten pertanyaan dan stiker ini memang mengarah pada tindakan digital grooming.

Baca juga : Wapres Minta Pusat Dan Daerah Satu Langkah Pulihkan Sumut

Apakah ada analisis lainnya terkait grup WA tersebut?

Grup tersebut melakukan targeting anggota grup yang sebagian besar adalah siswa SD dan SMP, seperti disampaikan oleh ayah salah satu anak anggota grup WA tersebut. Secara teknis, spamming dengan mengajak secara acak nomor WA untuk masuk ke dalam sebuah grup sering dilakukan, baik oleh para pedagang maupun pelaku kejahatan. Namun, menargetkan anak-anak SD dan SMP ini membutuhkan jaringan dan informasi khusus. Targeting anak-anak SD dan SMP untuk masuk ke grup WA membutuhkan data-data spesifik.

Data spesifik seperti apa?

Misalnya nomor anak-anak tersebut. Lalu, social engineering dilakukan dengan mengajak para anggota tersebut memasukkan teman-temannya yang lain. Dalam kejadian ini, seorang anak secara tidak sengaja memasukkan ayahnya ke dalam grup dan akhirnya keberadaan grup tersebut menjadi viral.

Baca juga : Mensos Minta Peserta Didik Diawasi 24 Jam

Apakah hal ini bisa dicegah oleh orang tua?

Bagi orang tua, yang paling penting adalah harus memiliki akses ke ponsel anak untuk melakukan pengecekan berkala terhadap konten yang dikonsumsi dan dengan siapa mereka berkomunikasi. Tak kalah penting, selain melakukan digital forensics sederhana, para orang tua perlu melakukan setting pada WA anak-anak agar hanya kontak yang dikenal yang dapat memasukkan nomor WA anak ke dalam grup. Selain itu, akses ponsel perlu dibatasi. Jangan sampai semua aplikasi dapat diinstal secara bebas. Ada fitur parental control yang bisa digunakan. NNM

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Sabtu, 5 September 2026 dengan judul "Ramai Grup WA Berisi Konten Negatif, Anak-anak Jadi Target Ibnu Dwi Cahyo: Kepolisian Perlu Lakukan Penyelidikan Lebih Dalam"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense