SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) merupakan salah satu bentuk pendidikan formal yang melaksanakan pendidikan kejuruan. SMK sebagai pranata pendidikan jenjang menengah sejatinya adalah sekolah menengah yang harus menjadi pilihan utama dalam menyiapkan lulusan yang siap pakai di Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Orientasi utama pendidikan SMK adalah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang siap pakai pada dunia kerja, memiliki kepemimpinan tinggi, disiplin, profesional, andal di bidangnya dan produktif.
Dengan demikian, lulusan SMK idealnya merupakan tenaga kerja tingkat menengah yang siap terjun di dunia usaha dan industri. Namun, bukan rahasia umum, penyumbanng tertinggi pengangguran di Indonesia adalah dari lulusan SMK. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan, tingkat penggangguran di Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2024, berada di urutan ke-59 dunia. Penyumbang tertinggi pengangguran tersebut berasal dari lulusan SMK.
SMK menjadi penyumbang tertinggi pengangguran bisa jadi dikarenakan beberapa faktor. Di antaranya; (1) Kurikulum yang belum terkoneksi dengan indikator keahlian kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. (2) Pembelajaran lebih banyak kapasiatasnya mentransformasi teori kepada para peserta didiknya. (3) Kurangnya sarana dan prasana laboratorium atau bengkel praktik. (4) Minimnya tenaga pendidik keterampilan kelompok produktif yang memiliki standar kompetensi sesuai dengan bidang kahlian sama di dunia kerja. (5) Kerja sama dengan pihak Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang sangat terbatas sehingga akses dunia industri sulit berkontribusi dalam bingkai link and match kepada SMK.
Baca juga : PTPN I Tuntaskan Pembayaran SHT Bagi Pensiunan
Selain itu, lulusan SMK juga kurang termotivasi untuk berwirausaha, sehingga setelah lulus mereka hanya perpangku tangan menunggu panggilan kerja. Dalam Jurnal pendidikan karya Sunawardhani dan Casmudi, ada beberapa faktor kondisi lulusan belum mampu mewujudkan membuka usaha sendiri secara mandiri karena: (1) Pendidikan karakter kemandirian, yang memberikan motivasi beradaya juang keras, ulet tidak mudah menyerah dari kegagalan lebih difukoskan pada sasaran berwirusha belum berjalan dengan baik di sekolah. (2) Belum adanya inkubator yang dibangun sekolah sebagai wadah para siswa belajar membangun usaha sendiri sejak di bangku SMK. (3) Masih kurangnya dukungan orangtua dalam mengarahkan anak-anak lulusan SMK untuk berwirasuaha tanap harus bekerja sebagai pekerja di unit usaha milik orang lain. (4) mental untuk berani membuka usaha sendiri rendah. (5) Faktor dukungan sekolah dan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam pendampingan kepada siswa untuk membuka usaha sendiri yang difasilitasi dimintoring dalam bidang pemasaran, manajemen usaha dan permodalan belum ada.
Pada periode Merdeka Belajar, angka pengganguran dari SMK tersebut dapat diturunkan. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran dari lulusan SMK tercatat sebanyak 9,60 persen per Februari 2023. Jumlah ini turun signifikan dibandingkan data Februari 2022 yang sebesar 10,38 persen dan 2021 sebesar 11,45 persen. Penurunan tinggat pengganguran ini diperoleh dari hasil berbagai kebijakan, salah satunya adalah SMK Pusat Keunggulan (SMK PK). Program ini sudah diluncurkan sejak tahun 2021 melalui kebijakan Merdekan Belajar yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.
SMK PK merupakan salah satu program prioritas dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek pada tahun 2021.Dari laman Kemendikbudristek, program SMK PK bertujuan untuk mewujudkan pengembangan SMK dengan program kealian tertentu sehingga terjadi peningkatan kualitas dan kinerja di bidang pendidikan vokasi. Dengan adanya program ini, diharapkan lulusan SMK dapat memiliki hard skill juga soft skill bercirikan jiwa Pancasila dan dapat terserap di dunia kerja atau di bidang wirausaha.
Baca juga : 3 Pesan Menag untuk Para Petugas Haji
Program SMK PK juga hadir untuk melatih guru dan kepala sekolah sehingga mereka dapat berperan sebagai narasumber praktik baik Kurikulum Merdeka. Selain itu, sekolah yang terpilih dalam program SMK PK diharapkan dapat menjadi rujukan serta melakukan pengimbasan untuk mendorong peningkatan kualitas dan kinerja SMK di sekitarnya. Nadiem Makarim menegaskan dalam siaran channel YouTube Kemendikbudristek, “Untuk mencapai visi tersebut, keselarasan antara SMK Pusat Keunggulan dengan dunia kerja tidak hanya diwujudkan melalui MoU saja, tetapi harus berlangsung secara mendalam dan menyeluruh”.
Maka, dalam program SMK PK ini dilakukan kemitraan dengan DUDI melalui program link and match 8+i. Keterlibatan dunia kerja di segala aspek penyelenggaraan pendidikan vokasi merupakan paket link and match 8+i yang meliputi: kurikulum disusun bersama, pembelajaran berbasis project rill dari dunia kerja (PBL), peningkatan jumlah dan peran guru/instruktur dari industri minimal 50 jam per semester, magang atau praktik kerja lapangan minimal 1 semester, sertifikasi kompetensi yang sesuai standar dan kebutuhan dunia kerja bagi lulusan dan guru, guru/instuktur secara rutin mendapatkan update teknologi dan pelatihan dari dunia kerja, riset terapan mendukung teaching factory, komitmen serapan oleh dunia kerja, serta berbagai kemungkinan lain kerja sama yang dapat dilakukan dengan dunia kerja antara lain beasiswa, ikatan dinas, donasi dalam bentuk peralatan laboratorium atau dalam bentuk lainnya, dan sebagainya.
Pada akhirnya, semua program ini manfaatnya harus dapat dirasakan oleh seluruh lulusan SMK juga para guru di SMK bukan hanya SMK PK, SMK Negeri tetapi juga SMK swasta, serta secara umum dapat dirasyakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.