BREAKING NEWS
 

Analisis Empiris atas Model Determinan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an: Kajian Psikologi

Writer : Xiao Motta
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 9 Juli 2025 22:58 WIB
Model Determinan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an (Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si.)

Dalam kajian mutakhir tentang psikologi pendidikan Islam, buku berjudul Model Determinan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an menghadirkan pendekatan kuantitatif yang komprehensif terhadap dinamika penghafalan Al-Qur’an di lingkungan pesantren. Karya ini menyajikan model struktural berbasis data empiris yang menggambarkan pengaruh sejumlah variabel psikososial terhadap kemampuan santri dalam menghafal Al-Qur’an secara sistematis dan terukur.

Penelitian ini bertolak dari fenomena menurunnya capaian hafalan santri yang tidak sebanding dengan intensitas program tahfiz yang dijalankan oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam. Berdasarkan kerangka teoritik dan temuan lapangan, penulis memformulasikan model kausal yang mengaitkan kecerdasan emosi, dukungan sosial, penyesuaian diri, serta orientasi tujuan dengan hasil hafalan santri. Data diperoleh dari 515 responden yang berasal dari dua lembaga pendidikan Islam di Indonesia yaitu Pesantren Tahfiz Daarul Qur’an Tangerang dan Yayasan Pendidikan Islamic Centre Medan.

Model ini diuji melalui pendekatan Structural Equation Modeling atau SEM yang memungkinkan analisis hubungan antarvariabel secara simultan dan menyeluruh. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model berada dalam kategori kecocokan yang baik dengan nilai chi-square sebesar 867.410, nilai CFI sebesar 0.938, TLI sebesar 0.926, RMSEA sebesar 0.044, dan CMIN/DF sebesar 1.736. Secara statistik, nilai-nilai tersebut mengindikasikan konsistensi antara model konseptual dan data empiris yang diperoleh dari lapangan.

Dalam pengujian pengaruh masing-masing variabel, kecerdasan emosi menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kemampuan menghafal Al-Qur’an dengan nilai critical ratio sebesar 2.734 dan nilai probabilitas sebesar 0.006. Kontribusinya terhadap variabel dependen mencapai 22.9 persen. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas emosi, kesadaran diri, dan kemampuan regulasi afeksi berperan penting dalam memfasilitasi kapasitas memori dan konsentrasi santri dalam proses menghafal.

Dukungan sosial juga terbukti sebagai faktor yang signifikan dengan nilai critical ratio sebesar 2.755 dan nilai probabilitas sebesar 0.006. Kontribusinya mencapai 21.5 persen. Lingkungan sosial yang suportif, baik dari keluarga, teman sebaya, maupun pengasuh di pesantren, mampu memberikan rasa aman dan motivasi berkelanjutan dalam menghafal teks suci.

Sementara itu, variabel penyesuaian diri justru menunjukkan hubungan negatif meskipun signifikan secara statistik. Nilai critical ratio sebesar -2.236 dan nilai probabilitas sebesar 0.025 dengan kontribusi sebesar 30.4 persen menunjukkan bahwa santri yang terlalu menyesuaikan diri terhadap tekanan dan norma institusional dapat mengalami hambatan dalam pengembangan otonomi kognitif. Hal ini menunjukkan bahwa proses penyesuaian yang bersifat pasif tidak selalu mendukung keberhasilan akademik dalam konteks religius.

Orientasi tujuan sebagai variabel yang dimoderasikan juga menunjukkan pengaruh negatif signifikan dengan nilai critical ratio sebesar -2.124 dan nilai probabilitas sebesar 0.034. Kontribusinya terhadap kemampuan menghafal adalah sebesar 19.3 persen. Hasil ini menandakan bahwa motivasi yang berorientasi pada tujuan ekstrinsik seperti penghargaan eksternal, tuntutan sosial, atau tekanan prestasi dapat mengurangi kedalaman internalisasi makna dan ketulusan dalam proses menghafal.

Jika keempat variabel dianalisis secara integratif, maka terlihat bahwa kemampuan menghafal Al-Qur’an tidak semata-mata dipengaruhi oleh aspek kognitif atau metode pengulangan, melainkan merupakan hasil dari interaksi kompleks antara regulasi emosi, dukungan sosial, fleksibilitas penyesuaian, dan arah motivasional. Temuan ini menantang pandangan konvensional yang menganggap hafalan Al-Qur’an sebagai aktivitas yang netral secara psikologis dan sepenuhnya bergantung pada frekuensi latihan.

Hemat penulis, buku ini memberikan kontribusi penting dalam dua aspek utama. Pertama, dari sisi metodologi, penerapan SEM dalam studi pendidikan Islam tradisional membuka jalan bagi peningkatan kualitas analisis akademik yang selama ini cenderung bersifat deskriptif. Kedua, dari sisi substansi, model yang ditawarkan dapat menjadi dasar konseptual bagi penyusunan kebijakan pembinaan santri yang lebih terarah dan berbasis bukti ilmiah.

Implikasi praktis dari model ini cukup luas. Kecerdasan emosi perlu dikembangkan melalui program pelatihan psikologis yang terintegrasi dalam kurikulum tahfiz. Dukungan sosial dapat difasilitasi dengan membentuk komunitas belajar yang partisipatif dan terbuka. Penyesuaian diri harus difahami bukan hanya sebagai kepatuhan terhadap sistem, tetapi sebagai proses penguatan kapasitas adaptif yang sehat. Sementara itu, orientasi tujuan perlu diarahkan ke motivasi yang lebih spiritual dan intrinsik agar hafalan tidak kehilangan dimensi ruhaniyahnya.

Buku Model Determinan Kemampuan Menghafal Alqur’an memberikan pijakan teoritis dan empiris yang kuat untuk memahami kompleksitas pendidikan tahfiz secara lebih ilmiah. Model yang disusun tidak hanya aplikatif dalam konteks pesantren di Indonesia, tetapi juga dapat direplikasi di berbagai wilayah dunia Islam yang memiliki sistem pendidikan serupa. Kajian ini sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam menjawab tantangan pendidikan berbasis agama di era modern.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense