Sebelumnya
Hal ini bisa dilihat dari terus turunnya harga PLTS dan baterai. Di mana pada 2015 harga PLTS dipatok 25 sen dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 359.070 per kilowatthour (kWh).
Namun saat ini, harga PLTS mampu ditekan berkisar 5,8 sen dolar AS (setara Rp 83.304) per kWh. Bahkan tren saat ini dapat turun di bawah 4 sen dolar AS (setara Rp 57.454) per kWh.
Sedangkan untuk baterai, sambung dia, harganya sekarang mencapai 13 sen dolar AS (setara Rp 186.728) per kWh. Padahal dulu harganya 50 sen dolar AS (setara Rp 718.159) per kWh.
“Artinya, ada penurunan biaya hampir 80 persen. Sehingga perkembangan teknologi dan inovasi mampu menekan mengurangi harga dari pembangkit EBT,” imbuhnya.
Baca juga : Pemerintah Akselerasi Transisi Energi Bersih Dan Raih Net Zero Emission
Darmawan berharap, hal ini bisa menjawab dilema antara energi bersih tapi mahal atau energi kotor tapi murah.
Tak hanya konversi PLTD ke PLTS dan baterai, pihaknya juga telah bekerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk melakukan konversi 33 PLTD menjadi berbasis gas. Khususnya di wilayah terpencil.
“Beberapa PLTD yang tahun ini juga digarap bersama PGN, yaitu mengganti PLTD menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU). Program gasifikasi ini menyasar daerah terpencil,” terangnya.
Dalam Rencana Kerja dan Anggaran perusahaan (RKAP) PLN 2022, bauran energi dari pembangkit gas di akhir tahun direncanakan menjadi sebesar 18,76 persen dari 18,1 persen pada Februari 2022.
Baca juga : Targetkan Net Zero Emission Di Tahun 2050, IKK Garap Kerja Sama Energi Dengan PEMA
Penambahan ini masuk dari program dedieselisasi PLTD, yang saat ini masih mendominasi di wilayah Nusa Tenggara dengan porsi 65 persen. Serta Maluku dan Papua dengan porsi 85,9 persen.
Menanggapi ini, Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan, program dedieselisasi ini memang bagian dari road map PLN dalam merealisasikan target NZE di 2060.
“Meskipun di awal masa peralihan dari diesel ke EBT seperti PLTS atau PLTGU membutuhkan biaya cukup besar, tapi ini sudah menjadi komitmen PLN untuk mencapai bauran energi,” terang Mamit kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Karenanya, PLN bisa mencari partner yang mampu untuk mengganti PLTD tersebut melalui lelang. Mengingat, lokasi PLTD lebih banyak berada di wilayah 3 T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal). Sehingga diharapkan mampu menekan biaya yang dibutuhkan.
Selain itu, PLTS juga bersifat intermitten atau tidak bisa berdiri sendiri. Maka, perlu dilengkapi dengan penggunaan baterai agar bisa menunjang operasional sepanjang hari.
“Penghematan yang diperoleh PLN, tentu ada. Seperti, dari biaya yang terkait konsumsi BBM untuk operasional PLTD. Meskipun tidak terlalu tinggi selisihnya,” pungkasnya.
Ia berharap, upaya ini dapat mempercepat masa transisi energi dari fosil menuju energi hijau.“Sebaiknya memang dedieselisasi ini bisa segera dilakukan. Apalagi, saat ini harga minyak dunia yang tembus hingga 121 dolar AS (setara Rp 1,7 juta) per barel,” pungkasnya. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.