Sebelumnya
Di samping itu, menurutnya, saat ini BUMN di sektor pertambangan seolah mendapatkan durian runtuh dari kenaikan harga komoditas internasional. Sehingga wajar jika BUMN sektor ini tidak membutuhkan bantuan Pemerintah.
Meski begitu, kata Bhima, keputusan untuk tidak memberikan PMN sebaiknya juga melihat BUMN yang masih mengalami tekanan keuangan jauh sebelum adanya Covid-19.
Baca juga : Satu Rumah Dijatah 90 Juta, Ampun Deh...
“Secara konsep oke, karena ada kenaikan permintaan (di sektor pertambangan). Tetapi kondisi BUMN tidak bisa disamaratakan. Karena setiap BUMN itu treatment-nya pasti beda-beda,” ujarnya lagi. Karena itu, Bhima minta hal tersebut menjadi pertimbangan.
Karena ada beberapa BUMN yang mendapat PMN sebelum Covid-19, namun kinerjanya masih bermasalah.
Baca juga : Zulhas Unjuk Kesetiaan
“Sehingga harus dipikirkan jika tidak lagi mendapat PMN, apakah bakal di-merger atau direstrukturisasi,” ucap Bhima.
Soal proyeksi kenaikan deviden, Bhima mengamini. Hal ini lantaran proyeksi bisnis mulai naik. Dan diharapkan berpengaruh pada deviden tahun ini.
Baca juga : Jangan Bikin Rakyat Tambah Bingung Deh
Lebih jauh, Bhima melihat, pandemi mengajarkan BUMN untuk lebih tangkas. Banyak perusahaan sukses menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada secara cepat. Tak hanya itu, pandemi juga memberikan momentum perusahaan negara untuk terus berkolaborasi.
“Terutama ketika salah satu sektor usaha mengalami penurunan, maka bisa berkolaborasi dengan BUMN lain. Atau bahkan menggandeng swasta untuk mencari peluang bisnis lain,” kata Bhima. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.