Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pertahankan Tradisi Dan Budaya, Pemerintah Komit Lestarikan Desa Adat

Sabtu, 26 Februari 2022 18:09 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kedua kanan) saat berkunjung ke Desa Adat Ratenggoro di kecamatan Kodi Bangedo, Sabtu (26/2). (Foto: Dok. KSP)
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kedua kanan) saat berkunjung ke Desa Adat Ratenggoro di kecamatan Kodi Bangedo, Sabtu (26/2). (Foto: Dok. KSP)

RM.id  Rakyat Merdeka - Desa adat di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur masih terjaga dengan baik. Di kabupaten yang berpenduduk 400 ribu jiwa lebih ini, terdapat lima kampung adat yang masih mempertahankan tradisi dan budayanya. Yakni, desa adat Ratenggaro, Wainyapu, Manola, Mbuku Bani, dan Tossi.

Namun, saat ini masyarakat adat mulai mengkhawatirkan keberadaan desa mereka. Sebab, pertambahan jumlah penduduk sudah tak lagi seimbang dengan penambahan rumah adat baru.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memastikan akan mendorong kementerian teknis untuk segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat, terkait pembangunan rumah-rumah adat baru.

Berita Terkait : Jepang Serahkan Hibah Mesin Penjernih Air Di Desa Wirotaman, Kabupaten Malang

“Pelestarian desa adat harus terus dijaga. Dan Pemerintah berkomitmen soal itu. KSP akan dorong kementerian teknis terkait untuk segara melakukan pembangunan rumah adat baru di sini (Sumba Barat Daya),” tegas Moeldoko saat berkunjung ke desa adat Ratenggoro kecamatan Kodi Bangedo Sumba Barat Daya, Sabtu (26/2).

Sebelumnya, tokoh muda desa adat Ratenggoro Adi Mada menceritakan berbagai kendala yang dihadapi masyarakat terkait pembangunan rumah adat baru. Ia menyinggung soal langkanya material, yakni kayu gelondongan Merbau.

“Sekarang yang banyak kayu-kayu balok pendek. Yang gelondongan sudah sulit kami temukan,” ujar Adi Mada.

Berita Terkait : Jelang Presidensi G20, Pemerintah Pastikan Fasilitas Kesehatan Sudah Siap

Adi Mada juga menyebut pembangunan rumah adat baru membutuhkan biaya sangat besar, terutama untuk prosesi ritual.

Ia mencontohkan, keperluan untuk membeli makanan dan hewan sebagai media pemujaan. “Kalau dihitung bisa sampai 500 juta,” ungkap Adi Mada.

Dalam kesempatan itu, Adi Mada juga meminta agar pemerintah juga memikirkan potensi ancaman abrasi terhadap desa adat Ratenggaro. Mengingat, lokasi desa berada persis di bibir pantai.

Berita Terkait : Survei LSP: Masyarakat Puas Dan Percaya Kinerja Pemerintahan Jokowi-Maruf

“Jika tidak dibangun penahan, abrasi bisa mengancam kampung kami bapak,” ujarnya.

Selain melihat kondisi desa adat, Kepala Staf Kepresidenan bersama tim KSP juga berkesempatan berkunjung dan melihat langsung proses penenunan kain khas Sumba, di Desa Maliti kecamatan Kodi Bangedo. [SRI]