Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pertahankan Tradisi Dan Budaya, Pemerintah Komit Lestarikan Desa Adat
Sabtu, 26 Februari 2022 18:09 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Desa adat di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur masih terjaga dengan baik. Di kabupaten yang berpenduduk 400 ribu jiwa lebih ini, terdapat lima kampung adat yang masih mempertahankan tradisi dan budayanya. Yakni, desa adat Ratenggaro, Wainyapu, Manola, Mbuku Bani, dan Tossi.
Namun, saat ini masyarakat adat mulai mengkhawatirkan keberadaan desa mereka. Sebab, pertambahan jumlah penduduk sudah tak lagi seimbang dengan penambahan rumah adat baru.
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko memastikan akan mendorong kementerian teknis untuk segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat, terkait pembangunan rumah-rumah adat baru.
Baca juga : Jepang Serahkan Hibah Mesin Penjernih Air Di Desa Wirotaman, Kabupaten Malang
“Pelestarian desa adat harus terus dijaga. Dan Pemerintah berkomitmen soal itu. KSP akan dorong kementerian teknis terkait untuk segara melakukan pembangunan rumah adat baru di sini (Sumba Barat Daya),” tegas Moeldoko saat berkunjung ke desa adat Ratenggoro kecamatan Kodi Bangedo Sumba Barat Daya, Sabtu (26/2).
Sebelumnya, tokoh muda desa adat Ratenggoro Adi Mada menceritakan berbagai kendala yang dihadapi masyarakat terkait pembangunan rumah adat baru. Ia menyinggung soal langkanya material, yakni kayu gelondongan Merbau.
“Sekarang yang banyak kayu-kayu balok pendek. Yang gelondongan sudah sulit kami temukan,” ujar Adi Mada.
Baca juga : Jelang Presidensi G20, Pemerintah Pastikan Fasilitas Kesehatan Sudah Siap
Adi Mada juga menyebut pembangunan rumah adat baru membutuhkan biaya sangat besar, terutama untuk prosesi ritual.
Ia mencontohkan, keperluan untuk membeli makanan dan hewan sebagai media pemujaan. “Kalau dihitung bisa sampai 500 juta,” ungkap Adi Mada.
Dalam kesempatan itu, Adi Mada juga meminta agar pemerintah juga memikirkan potensi ancaman abrasi terhadap desa adat Ratenggaro. Mengingat, lokasi desa berada persis di bibir pantai.
Baca juga : Survei LSP: Masyarakat Puas Dan Percaya Kinerja Pemerintahan Jokowi-Maruf
“Jika tidak dibangun penahan, abrasi bisa mengancam kampung kami bapak,” ujarnya.
Selain melihat kondisi desa adat, Kepala Staf Kepresidenan bersama tim KSP juga berkesempatan berkunjung dan melihat langsung proses penenunan kain khas Sumba, di Desa Maliti kecamatan Kodi Bangedo. [SRI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya