BREAKING NEWS
 

Kontribusi Untuk Masyarakat Sangat Nyata

Freeport Akan Setor Rp 1.000 Triliun

Reporter & Editor :
RATNA SUSILOWATI
Kamis, 23 Juni 2022 12:14 WIB
Presiden Jokowi saat menghadiri ground breaking proyek smelter tembaga PTFI di Kawasan Ekonomi Khusus JIIPE, Gresik, Jawa Timur, 12 Oktober 2021. (Foto: Setpres)

 Sebelumnya 
Lebih detail mengenai pembangunan smelter, Tony menceritakan progress-nya sudah mencapai 30-an persen. Atau 7.500 tiang pancang telah diselesaikan. Dan akhir tahun ini, target pembangunannya bisa 50 persen.

Adsense

"Seluruh produk konsentrat PTFI, nantinya diproses dan dimurnikan dalam negeri,” katanya.

Kapasitas smelter itu bisa mengolah 1,7 juta ton konsentrat per tahun, dan memproduksi 600 ribu ton tembaga.

Biaya membangun smelter mencapai Rp 42 triliun. Tidak akan rugi, karena harga jual tembaga saat ini di dunia sedang bagus. Mencapai 9.300 dolar AS per ton. Jadi, kira-kira revenue-nya bisa mencapai Rp 70-an triliun per tahun. Hanya dari tembaga. Belum termasuk emas dan perak.

Kontribusi Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat

Keberadaan Freeport di Papua, juga sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Banyak nilai tambah dan kontribusi Freeport di sana.

Baca juga : Libatkan Masyarakat Lokal Kembangkan Pariwisata Berkelanjutan

Tony Wenas mengatakan, Freeport Indonesia aktif berkontribusi untuk pengembangan masyarakat Papua, termasuk di antaranya pendidikan, kesehatan, ekonomi desa dan pembangunan infrastruktur.

Sejak 1996, PTFI telah memberikan lebih dari 12 ribu fasilitas beasiswa, serta mendirikan dan membiayai pengelolaan 6 asrama untuk total 1.500 siswa Papua.

Di luar itu, PTFI juga mendukung penempatan guru bantu di kampung-kampung, dan memberikan bantuan operasional pendidikan.

Institut Pertambangan Nemangkawi yang didirikan PTFI, telah menempatkan 2.764 lulusan magang di posisi karyawan langsung dan kontraktor PTFI. Dan 90 persen di antaranya adalah asli Papua.

Sejak 2017, lahir program Papuan Sustainable Human Capital untuk meningkatkan kemampuan dasar, dan kedisiplinan bekerja bagi masyarakat Papua. Khususnya, yang berasal dari tujuh suku besar di sana, dan direkrut menjadi karyawan.

Sejak 2005, PTFI telah mengirimkan lebih dari 300 karyawan asal Papua, untuk mengikuti program beasiswa, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Baca juga : Gantiin Mane Dan Salah, Nunez Minta Rp 1,5 Trilun

Pemuda pemudi Papua juga mendapat prioritas untuk bekerja di Freeport Indonesia.

Total karyawan yang bekerja di Freeport Indonesia dan mitranya, saat ini mencapai 28 ribuan. Dan hampir seperempatnya berasal dari Papua. Karyawan asing, hanya dua persen. Sisanya non Papua.

Kesehatan masyarakat juga diperhatikan. Freeport telah membangun, mengoperasikan rumah sakit dan klinik. Tercatat lebih dari 111 ribu kunjungan pasien selama 2021, ke RS Mitra Masyarakat. Dan lebih dari 39 ribu kunjungan ke pelayanan dan pengobatan gratis di klinik umum dan klinik spesialis.

Selain itu, lebih dari 43 ribu orang telah mendapatkan sosialisasi dan pelatihan kesehatan HIV, TB dan Covid-19.

Banyak usaha kecil menengah, yang juga mendapatkan perhatian. Ada 196 pengusaha aktif dengan total pendapatan Rp 278 miliar, yang telah dibina Freeport. Lebih dari 50 persennya adalah wanita.

Sejak 2014, Freeport yang bermitra dengan BRI, telah menyalurkan kredit ke lebih dari 500 usaha lokal di sana, dengan nilai lebih dari Rp 64 miliar.

Baca juga : Kementan Matangkan Portal Satudata Pertanian

Saat ini, ada lebih dari 500 hektar kebun kelapa, 200 hektar kakao dan 35 hektar kopi yang dibantu pengembangannya oleh Freeport. Bahkan, peternak ayam potong dan petelur pun dibantu, hingga usahanya mencapai skala 150-an ribu ekor.

Di luar itu, Freeport juga membangun 3.200 unit rumah, dan sebuah kompleks olahraga di atas lahan 12,5 juta hektar dengan biaya Rp 460-an miliar.

Selain itu, juga ada dua lapangan terbang perintis, yang dibangun di Desa Tsinga dan Aroanop.

Dengan kontribusi senilai Rp 600-an miliar, masih saja ada yang beranggapan bahwa keberadaan Freeport Indonesia, kurang memberi manfaat bagi masyarakat Papua.

Sekadar gambaran, daratan Pulau Papua itu luasnya 40,7 juta hektar. Sementara wilayah izin usaha pertambahan Freeport, luasnya tak sampai 10 ribu hektar.

Rasanya kurang fair, jika Freeport yang menguasai hanya 0,02 persen daratan Papua, harus bertanggung jawab atas kesejahteraan seluruh rakyat Papua. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense