Sebelumnya
Strategi kedua, maintenance quality, di mana di dalamnya sangat selektif dalam menentukan kelayakan nasabah untuk direstrukturisasi. Lalu menerapkan soft landing strategi yang menyediakan bantalan dan cadangan yang cukup.
Selanjutnya ketiga, fokus di high yield loan. BRI akan fokus untuk bertumbuh pada pinjaman-pinjaman yang memiliki high yield, yaitu segmen mikro dan consumer loan.
Terakhir, Sunarso mengatakan, strategi efficient liability CASA (Current Account Saving Account) Growth. BRI terus meningkatkan CASA melalui peningkatan wholesale transaction, penetrasi digital saving BRI, dan hyperlocal ecosystem pada segmen mikro.
“Jadi nanti kalau ada kinerja BRI yang mungkin labanya terbesar, sebenarnya itu adalah keberhasilan transformasi yang tujuannya adalah memurahkan biaya dana, biaya operasional dan biaya kredit,” sebutnya.
Baca juga : Krisis Ekonomi Global, Pemerintah Kudu Jaga Daya Beli Masyarakat
Senada, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi mengatakan pihaknya siap menyediakan payung sebelum hujan, dengan menjaga likuiditas perbankan dan membangun funding franchise.
“Kita tahu krisis akan datang di depan mata. Dan kita sudah mengerti bahwa krisis global ini pasti banyak atau sedikit terdampak membawa dampak kepada Indonesia,” jelasnya di kesempatan yang sama.
Mantan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri ini mengatakan, strategi yang diutamakan dalam menghadapi krisis global adalah dengan menerapkan liquidity is a king.
Saat ini BSI bersiap-siap untuk membangun funding franchise, agar bisa mampu meng-collect sebanyak mungkin dana murah seperti tabungan dan juga giro.
Baca juga : Industri Nikel Berpotensi Topang Ekonomi Di Tengah Ancaman Resesi
Ia menilai, khusus di industri perbankan syariah tidak perlu terlalu khawatir, karena dengan penduduk Muslim sebanyak 220 juta, Indonesia masih memiliki potensi value chain halal hingga Rp 4.300 triliun.
Menyoal ini, Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah mengimbau industri perbankan di Tanah tidak perlu panik tetapi tetap harus waspada. Perekonomian Indonesia masih cukup kuat kok.
“Sekarang ini kita masih mengalami surplus perdagangan dan current account kita positif. Dan masih akan terjaga di tahun 2023. Ini yang menjadi modal besar kita untuk bertahan walaupun global mengalami krisis,” yakin Piter kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Tak hanya itu, Piter merinci, kemampuan bank untuk bertahan di tengah gelombang krisis sudah terbukti. Termasuk krisis pandemi, yang ditunjukkan dengan indikator kinerja bank umum konvensional yang meningkat per Juni 2022.
Baca juga : SKI Luncurkan Saksi Demokrasi
Yakni meliputi rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) di level 24,72 persen, Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) di level 78,46 persen, Loan to Deposit Ratio (LDR) 81,63 persen, Net Interest Margin (NIM) 4,78 persen, Return of Asset (ROA) 2,38 persen, Non Performing Loan (NPL) 2,86 persen.
Termasuk empat bank terbesar Indonesia pada semester I tahun 2022 mencatatkan laba bersih luar biasa. Bahkan di tengah krisis.
“Yakni BRI mencapai Rp 24,79 triliun, Mandiri Rp 20,21 triliun, BCA Rp 18,05 triliun, dan BNI Rp 8,8 triliun,” pungkasnya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.