Sebelumnya
“Saya kira prospek bisnis yang dimiliki PGE cukup baik meskipun high risk dan high capital, tapi prospek bisnis EBT ke depan tinggi dan minat investor tinggi. Jadi prospeknya cerah ke depan,” kata Eddy dalam keterangan, Minggu (26/3).
Eddy mengakui, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang digarap PGE, membutuhkan modal besar. Total investasi yang dibutuhkan perusahaan sebesar 1,6 miliar dolar AS (setara Rp 24,2 triliun) dalam lima tahun ke depan atau hingga 2027.
Untuk itu, keputusan perusahaan melantai di bursa saham alias Initial Public Offering (IPO) belum lama ini, kata dia, jadi keputusan yang tepat. Sebab, emiten berkode PGEO ini meraup dana jumbo sekitar Rp 9 triliun pada Februari 2023.
Dengan IPO ini, sambung Eddy, sebagian besar untuk modal awal proyek, bisa dilaksanakan. Tinggal bagaimana PGE dan mitra bisa menjalankannya, baik (mitra) nasional atau swasta asing.
Baca juga : Airlangga Bingung Ekspor Furnitur RI Disalip Thailand
“Melihat tingginya minat EBT, saya kira PGE tidak akan kesulitan dapat partner, sehingga bank akan tertarik membiayai proyek PGE ke depannya,” ujarnya.
Menyoal ini, Corporate Secretary PGE Muhammad Baron menjelaskan, sebagai salah satu pengembang energi panas bumi terbesar di dunia, PGE telah memiliki pengalaman puluhan tahun berambisi untuk meningkatkan kapasitas listrik sebanyak 600 MW dalam 5 tahun ke depan.
Dana yang diperoleh dari IPO dialokasikan untuk pengembangan usaha sebesar 85 persen. Dan sekitar 15 persen akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang. Karena itu dia menggarisbawahi, fundamental keuangan perusahaan kuat untuk menjalankan proyek pengembangan listrik EBT.
“Pendanaan dari pasar modal melalui IPO, diharapkan dapat mendukung percepatan pengembangan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi,” kata Baron dalam rilisnya, kemarin.
Baca juga : BPDPKS Dukung Pemberdayaan UMKM Melalui Program Bikopra Aspekpir
Salah satu yang telah dilakukan adalah rencana penambahan kapasitas terpasang panas bumi sebesar 55 MW di salah satu area operasi PGE di Lumut Balai, Sumatera Selatan, yang ditarget dapat selesai di tahun 2024.
Per September 2022, PGEmemiliki nilai kas dan setara kas sebesar 230 juta dolar AS (Rp 3,49 triliun), yang bertambah sekitar 105 juta dolar AS (Rp 2,27 triliun) dari saldo kas per 31 Desember 2021.
Hal ini menunjukkan PGE mampu mengelola kas secara baik, yang utamanya didapat dari penjualan uap dan listrik ke PLN.
Kontrak penjualan uap dan listrik PGE merupakan kontrak yang bersifat jangka panjang dan selalu terbayarkan secara tepat waktu.
Baca juga : Kantongi Rp 17,2 T, Adhi Karya Serah Terima Proyek LRT Bulan Depan
“Dengan tambahan dana segar IPO, PGE masih memiliki arus kas yang cukup kuat dan mampu mengatasi kewajiban bayar utang secara tepat waktu,” pungkasnya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.