Sebelumnya
Arief menegaskan, selain melakukan percepatan pendistribusian, pihaknya juga memproritaskan pengawasan. Pasalnya, pengawasan yang baik akan sangat mendukung kelancaran program ini.
Arief bilang, pihaknya menugaskan pimpinan Eselon 1 dan 2 Bapanas secara rutin dan bergantian turun ke daerah memantau dan memastikan bantuan pangan. Baik bantuan telur dan daging ayam maupun beras, tiba tepat waktu dan tepat sasaran.
“Kami juga minta dukungan Satgas (Satuan Tugas) Pangan Polri dan Pemerintah Daerah dalam melakukan pengawasan di lapangan. Kami terbuka terhadap setiap masukan dan laporan untuk perbaikan,” katanya.
Menyoal ini, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menilai, harga telur tidak mungkin bisa turun dalam dua pekan ke depan. Sebab, pemasalahan inti dari lonjakan harga telur adalah pakan ternak, yang saat ini sudah mengalami lonjakan yang cukup tinggi.
Baca juga : Pemuda Katolik Siap Bantu Pemerintah Tekan Angka Stunting
“Khusus telur, harganya anomali. Pada Januari saja saat harga tinggi Februari sudah drop. Terus turun (harga) hingga Ramadan April sampai Mei ini naik lagi. Padahal, beberapa minggu di April sempat turun,” jelas Dwi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut Dwi, strategi peternak untuk menutup rugi melalui afkir (pemisahan telur) dini ayam petelur pada Maret, nyatanya malah berimbas pada naik turunnya produksi telur hingga saat ini. Karena itu, Pemerintah perlu menyelesaikan masalah harga dan stok dari pakan ternak terlebih dahulu, baru membahas mengenai produksi dan lainnya. “Biaya produksi ayam petelur mahal karena harga pakan yang tinggi,” cetusnya.
Ia menambahkan, produksi telur ayam belum sepenuhnya mampu mengimbangi permintaan, karena peternak belum menambah jumlah indukan untuk mengerek kapasitas produksinya.
Pada dasarnya, sambung Dwi, ada kenaikan harga yang tertunda, sehingga peternak melakukan penyesuaian pasokan untuk menjaga harga agar sesuai dengan harga keekonomiannya.
Baca juga : Bentuk Bang Zaki FC, Zaki Iskandar Ajak Warga Jakarta Main Bola
Sebelumnya, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) menyayangkan harga telur di pasaran terus merangkak naik. Mereka menilai, tidak terdapat upaya melakukan penurunan harga telur, sehingga sehingga secara nasional terus naik.
Saat ini di wilayah Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi) harga telur berada di kisaran Rp 31 ribu-34 ribu per kg. Di luar Jawa atau wilayah timur Rp 38 ribu per kg, bahkan lebih dari Rp 40 ribu per kg.
Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan mengatakan, harga telur mengalami kenaikan sejak beberapa minggu terakhir. Dan ada dua penyebabnya. Pertama, karena faktor produksi.
“Maksudnya, faktor produksi ini disebabkan oleh harga pakan yang tinggi,” katanya di Jakarta, Kamis (18/5).
Baca juga : Bapanas: Penyaluran Bantuan Telur Dan Daging Ayam Sudah Capai 69 Persen
Kedua, proses distribusi yang tidak sesuai dengan kebiasaan. Yang biasanya didistribusikan ke pasar, banyak pihak malah melakukan pendistribusian di luar pasar, sehingga supply dan demand di pasar terganggu dan menyebabkan harga terus merangkak naik.
“Kami berharap, Pemerintah dapat melakukan upaya dan antisipasi agar kenaikan harga telur tidak terus naik,” pintanya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.