BREAKING NEWS
 

Soal Wacana Merger Dengan Pelita Dan Citilink

Bos Garuda: Sedang Dikaji Secara Intensif

Reporter : IRMA YULIA
Editor : FIRSTY HESTYARINI
Senin, 28 Agustus 2023 07:15 WIB
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra. (Foto: Antara)

 Sebelumnya 
Irfan menilai, hal tersebut turut menjadi sinyal positif bagi upaya penguatan fundamental kinerja perusahaan.

Terpisah, Staf Khusus III Men­teri BUMN Arya Mahendra Sinulingga menerangkan, pihaknya masih mengkaji rencana pengelo­laan tiga maskapai tersebut.

Ketika ditanya apakah peng­gabungan maskapai ini akan menyerupai penggabungan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, pihaknya belum bisa merinci lebih lanjut.

“Inbrengnya ke mana? Apakah ke Garuda atau Citilink, kami belum tahu. Apakah akan sep­erti subholding? Kami belum tahu juga, masih dikaji,” ujarnya di Jakarta, Rabu (23/8).

Namun menurutnya, peng­gabungan tiga maskapai ini bukan berarti melebur menjadi satu perusahaan.

Baca juga : Gardu Ganjar Gelar Senam Sehat Dan Lomba Karaoke Bareng Ibu-Ibu Di Serang

“Bukan merger jadi satu nama, Garuda. Hubungan Garuda dengan Citilink sama saja seperti sekarang. Hanya untuk Pelita yang akan dilihat peluang-peluang bisnis terbaiknya,” sambungnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir menuturkan, ada dua alasan dibalik rencana pe­nyatuan atau merger tiga peru­sahaan penerbangan tersebut. Yaitu sebagai lanjutan program efisiensi BUMN yang sebelum­nya sudah dilakukan terhadap empat Pelindo pada 2021.

“Setelah Pelindo, akan dilan­jutkan ke BUMN klaster lain, yaitu maskapai penerbangan. Saat ini ada tiga BUMN di bidang penerbangan, yaitu Garuda Indo­nesia, Citilink, dan Pelita Air,” kata Erick, dalam pernyataan resmi, di Jakarta, Senin (21/8).

Dia meyakini, langkah ini mam­pu menekan biaya logistik, sehingga bisa membuat industri penerbangn semakin kuat dan efisien.

Erick menegaskan, pihaknya akan terus menekan logistic cost. Seperti halnya Pelindo, dari empat perusa­haan menjadi satu, yang sebelum­nya logistic cost sebesar 23 persen, sekarang jadi 11 persen.

Baca juga : Starlink Punya Elon Musk Bakal Dipakai Puskesmas

“Kami juga upayakan Pelita Air, Citilink dan Garuda merger untuk menekan cost,” ungkapnya.

Kedua, kata dia, memperkuat industri penerbangan di dalam negeri, salah satunya melalui penambahan armada.

Menurutnya, saat ini Indonesia masih kekurangan sekitar 200 pesawat. Kekurangan itu dihitung dari perbandingan antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia.

Erick yang juga Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) ini mengata­kan, di Amerika Serikat, terdapat 7.200 pesawat yang melayani rute domestik, dengan jumlah pen­duduk mencapai 300 juta populasi dengan rata-rata GDP (Gross Do­mestic Product) mencapai 40 ribu dolar AS (setara Rp 611,7 juta).

Sementara di Indonesia, sam­bungnya, terdapat 280 juta pen­duduk yang memiliki GDP 4.700 dolar AS (setara Rp 71,8 juta).

Baca juga : Pelanggar Lalin Bakal Dikenai Sanksi Double

“Itu berarti, Indonesia membu­tuhkan 729 pesawat. Sekarang, Indonesia baru memiliki 550 pe­sawat. Jadi, perkara logistik kita belum sesuai,” tandasnya.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Senin 28/8/2023 dengan judul Soal Wacana Merger Dengan Pelita & Citilink, Bos Garuda: Sedang Dikaji Secara Intensif

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense