Sebelumnya
Dia menilai, ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan masih sangat tinggi. Dan proyeksi impor beras 3,5 juta ton tahun ini akan menjadi yang tertinggi pasca krisis 1997.
Angka ini juga melampaui impor beras 2,25 juta ton pada 2018. Menurut dia, hal ini menjadi ironis karena baru pada 2022, Indonesia menerima penghargaan internasional karena dipandang mampu swasembada beras periode 2019-2021.
“Indonesia hingga kini belum mampu swasembada beras. Dan di masa El Nino, kegagalan tersebut harus dibayar mahal dengan lemahnya ketahanan pangan Indonesia,” ingat Yusuf.
Baca juga : Capres Beri Janji Indah Soal Iklim dan Energi Baru
Menurutnya, selama tidak mampu swasembada beras, Indonesia akan terus terekspos dengan risiko impor beras.
Sebagai salah satu negara importir pangan terbesar di dunia, Yusuf mengatakan Indonesia tak terhindarkan akan selalu terekspose dengan risiko politik proteksionisme pangan global.
Selain itu, banyak pihak yang telah lama mengingatkan bahwa bergantung pada pasar pangan global memunculkan kerentanan tinggi pada ketahanan pangan kita.
Baca juga : Lawan PS Sleman, David da Silva Siap 100 Persen
Dia menekankan kerentanan terbesar datang dari ketidakpastian pasokan dan harga pangan internasional. Indonesia sudah pernah mengalaminya pada saat krisis harga pangan global 2008.
“Saat itu, terutama harga beras di pasar internasional melonjak tinggi akibat gagal panen, spekulasi di pasar komoditas. Dan politik pangan negara eksportir beras,” pungkasnya.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Kamis 2/11/2023 dengan judul Antisipasi Krisis Pangan, Zulhas: India Siap Kirim Beras
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.