RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi mengungkap pengalamannya mengunjungi Vietnam pada 13 Januari 2024. Dia mengaku mendapatkan informasi, ada satu perushaaan swasta di sana, yang memiliki bagian Research & Development (Riset & Pengembangan), dengan 2.400 peneliti. Jokowi bilang, mereka sangat menghargai yang namanya riset.
China juga begitu. Ada perusahaan yang punya 24 ribu periset.
"Vietnam, income per kapitanya kira-kira 4.300 dolar AS. Kita sekarang sudah kira-kira 5.100 dolar AS. Padahal, tahun 1975, Vietnam baru selesai perang. Artinya, 30 tahun duluan kita. Tapi mereka ngebut, kencang. Hati-hati, income per kapitanya hampir melampaui kita," papar Jokowi saat membuka Konvensi Kampus XXIX dan Temu Tahunan XXV Forum Rektor Indonesia di Surabaya, Jawa Timur, Senin (15/1/2024).
Baca juga : Aksi Srikandi Dan Mak Ganjar Gelar Bazar Murah Bikin Warga Kapuas Semringah
"Kalau kita hanya monoton dan santai-santai saja, sebentar lagi bisa kelanggar sama yang namanya Vietnam. Ini yang kita tidak mau," imbuhnya.
Jokowi menuturkan, lembaga pendidikan tinggi memiliki peran yang sangat strategis untuk mencetak SDM unggul dan berkualitas. Yang bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kemauan kuat untuk terus belajar. Serta SDM yang kuat fisik, mental, dan moral. Juga SDM yang inovatif, menghasilkan karya-karya yang berkualitas.
Di sisi lain, perguruan tinggi juga punya tugas sebagai lembaga riset. Kunci pentingnya ada di sini.
Baca juga : Peringati BBKT Ke-63, Karang Taruna Cempaka Putih Gelar Khitanan Massal Gratis
Di Vietnam, universitas dan industri nyambung. Pemerintah membuat desain besar, universitas dan industri menyambungkan. Itu yang luar biasa.
"Saya ulangi, perguruan tinggi juga memiliki tugas mulia menjadi lembaga periset, karena memiliki dosen yang sangat banyak. Baik S1, S2, S3 dan juga tenaga peneliti. Serta puluhan ribu mahasiswa untuk pengembangan iptek kita, dan berinovasi untuk memecahkan masalah-masalah bangsa," ujar Jokowi.
Karena itu, Jokowi akan memerintahkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menjadi orkestrator penelitian bersama Badan Perencanaan, Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk merancang kebutuhan riset negara. Untuk menjawab tantangan, dan memanfaatkan berbagai peluang yang ada di depan.
Baca juga : Jokowi: Belum Bisa Dibilang Inovasi, Kalau Kita Belum Rada-Rada Gila
"Yang paling penting, kuncinya ada di perguruan tinggi. Bukan di BRIN. Risetnya ada di perguruan tinggi. Itu yang harus mulai kita geser. Orkestrator boleh dari BRIN, tetapi peran perguruan tinggi harus betul-betul memperkuat research and development-nya," tandas Jokowi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.