BREAKING NEWS
 

Kenapa Bendungan: Tinjauan Mengenai Potensi Bendungan sebagai Sumber EBT

Writer : Fikriansyah Ridwan
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 15 April 2024 17:30 WIB
PLTS Terapung Waduk Cirata, Jawa Barat. (Foto: Dok. PLN)

Pentingnya Infrastruktur di Tengah Tantangan Iklim dan Kondisi Indonesia

Bukan hanya sebagai tempat wisata, bendungan diharapkan memiliki peran lebih untuk Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Keanekaragaman hayati dan hewani di Indonesia jika tidak dimanfaatkan dengan bijak, akan merugikan penduduk Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia pada sensus tahun 2022 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 275,77 juta jiwa, dengan sebagian besar berpusat di Pulau Jawa. Makanan pokok penduduk Indonesia sendiri berupa nasi dari tanaman padi. Tanaman padi sangat bergantung pada air dan kondisi iklim agar dapat panen. Namun, melihat data dari BPS, ternyata Indonesia masih perlu mengimpor beras hingga pada tahun 2023 sebanyak 3.06 juta ton untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Peran Bendungan, dari Irigasi hingga Energi Terbarukan

Bendungan Cirata
Sumber: zonaebt.com

Dengan alasan tersebut, presiden-presiden Indonesia berupaya mengadakan swasembada pangan dengan salah satunya membangun bendungan-bendungan sebagai sarana irigasi. Namun ternyata, fungsi dan peran bendungan di Indonesia tidak hanya sebagai sumber irigasi persawahan. Masih banyak fungsi bendungan misalnya budi daya ikan, pariwisata, sumber air bersih, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), bahkan bisa digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung seperti di waduk Cirata, Jawa Barat.

Baca juga : Tips Mendengarkan Musik Yang Aman Saat Berkendara Secara Offline

Hal ini penting dilakukan mengingat perubahan iklim yang mulai terjadi atau yang sekarang mulai dikenal dengan krisis iklim. Apa itu krisis iklim? Krisis iklim merupakan kondisi bumi di mana mulai terjadi pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu. Krisis iklim disebabkan oleh emisi gas rumah, kaca seperti karbon dioksida dan metana, dan berkurangnya penyerap alami karbon dioksida seperti deforestasi.

Akibat dari krisis iklim ini antara lain, meningkatnya suhu udara, mencairnya es di kutub, dan naiknya permukaan air laut. Hal-hal ini mulai bisa diamati dan dirasakan. Suhu di beberapa kota di Indonesia mulai terasa panas, banyak pulau di Indonesia yang mulai tenggelam, dan perubahan musim yang tidak menentu. Hal-hal tersebut tentu mengancam keberadaan Indonesia mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dan bergantung pada beras sebagai makanan pokok.

Bendungan sebagai Kunci Energi dan Ketahanan Iklim

Banyak berita yang mengatakan banyaknya bendungan yang dibangun di Indonesia hingga membutuhkan anggaran sebesar 21,56 triliun rupiah pada tahun 2024 untuk membangun bendungan Ini memang jumlah yang tidak sedikit. Namun, meskipun pembangunan bendungan terlihat “gacor” di Indonesia, jika dibandingkan dengan negara lain negara ini belum seberapa. Misalkan kita bandingkan dengan bendungan di Cina sebanyak sekitar 98.000 dibandingkan Indonesia hanya sebanyak sekitar 300 bendungan.

Mengapa bendungan terus dikembangkan? Apakah bendungan cocok digunakan di Indonesia? Pada artikel ini akan dibahas potensi positif dan dampak negatif dari waduk atau bendungan di Indonesia terhadap lingkungan dalam menghadapi krisis iklim dunia. Akan dibahas juga bagaimana performa pembangkitan energi dari bendungan dibandingkan dengan sumber energi yang banyak digunakan di Indonesia. Terakhir akan dibahas bagaimana upaya mengurangi dampak negatif dan memaksimalkan potensi dari bendungan sebagai sumber energi terbarukan dalam menghadapi krisis iklim untuk mencapai Indonesia dan bumi yang berkelanjutan.

PLTA dan PLTS Terapung, Potensi Energi Air Indonesia

Bendungan umumnya diketahui masyarakat sebagai penampung air bersih atau air hujan guna mencegah banjir. Bendungan juga biasanya digunakan masyarakat sebagai tempat budi daya ikan dan sumber irigasi persawahan mereka. Namun, bendungan atau waduk juga memiliki peran penting dalam penghasilan sumber energi listrik bagi negara. Sebuah bendungan atau waduk dapat dipasang turbin yang menghasilkan listrik atau disebut PLTA.

Baca juga : Kemenag: Pelaksanaan Haji 2024 Harus Menyenangkan bagi Jemaah

Kemampuan dari PLTA untuk menghasilkan listrik bermacam-macam, tergantung dari besar waduk dan banyak turbin terpasang. Seperti kata Hermanto Dardak, Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi listrik sekitar 75.000 megawatt dari air, namun kenyataannya sekarang baru digunakan sekitar 5.000 megawatt atau sekitar 7 persen. 

Selain itu, sebuah PLTA atau bendungan yang memenuhi syarat dapat digunakan sebagai PLTS terapung. Ada banyak keuntungan dari PLTS terapung ini antara lain, efisien tempat karena pengolahan listrik PLTS dapat satu lokasi, efisien panel surya lebih bagus karena suhu pada waduk dapat mendinginkan panel sehingga dapat bekerja lebih efisien. Contoh dari penerapan PLTS terapung yaitu pada PLTS terapung Cirata yang merupakan nomor satu terbesar di Asia Tenggara. Alasan-alasan tersebut juga merupakan sebab perlu dikembangkannya bendungan di Indonesia.

Dampak Negatif dari Pembangunan Bendungan

Namun begitu banyak manfaat dari bendungan tidak begitu saja ada tanpa dampak negatif. Ada dampak negatif atau kekurangan yang ditimbulkan baik dalam masa pembangunan atau pengoperasian bendungan terhadap lingkungan. Dampak negatif dalam masa pembangunan antara lain, tercemarnya air di sekitar lokasi pembangunan oleh sedimen dan zat kimia, polusi dari zat padat pembangunan, dan polusi gas buang mesin pembangunan.

Terdapat juga dampak sosial, ekonomi, bahkan budaya dari upaya pembukaan bendungan. Selain itu pada masa pengoperasian ada potensi seperti kerusakan bendungan, gas metana yang dihasilkan bendungan lebih buruk dari gas karbon dioksida karena gas metana menyebabkan pemanasan global dan berkontribusi pada krisis iklim. Hal ini tentu buruk dan perlu untuk dipikirkan solusinya dalam pembangunan bendungan.

PLTA Versus PLTU

Baca juga : Moeldoko Tanggapi Kasus Dugaan TPPO Ribuan Mahasiswa Berkedok Magang Di Jerman

PLTU Mengepulkan Asap
Sumber: anakteknik.co.id

Di Indonesia total terdapat sekitar 162 PLTA, dibandingkan dengan terbanyak yaitu pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebanyak 255 PLTU. Jika dilihat total energi listrik yang dihasilkan PLTA, masih jauh dibandingkan dengan PLTU yaitu sebesar 8% energi listrik dihasilkan PLTA dibandingkan 62% dihasilkan PLTU (Climate Transparency Report 2022). Penggunaan energi kotor ini perlu mulai ditinggalkan dan berpindah ke energi bersih. Sebab PLTU dengan batu bara menghasilkan gas karbon dioksida sebesar 740–1689 gram karbon dioksida per kWh, PLTS sebesar 41 gram per kWh sedangkan PLTA sebesar hanya 4 gram per kWh (IPCC, 2023). Namun, perlu diingat lagi PLTA atau waduk juga menghasilkan gas metana, misalnya pada waduk Cirata menghasilkan sekitar 0,602 gram per meter persegi per harinya (Yayu et. Al., 2013).

Memangnya apa masalahnya dari gas-gas ini? Gas metana dan gas karbon dioksida merupakan gas rumah kaca. Gas rumah kaca yang berada pada atmosfer ini bersifat seperti rumah kaca pada bumi yaitu menjebak panas. Semakin banyak gas rumah kaca, panas dari matahari yang terperangkap semakin banyak yang mengakibatkan semakin cepat juga temperatur bumi meningkat. Gas metana meskipun menjebak panas lebih dari gas karbon dioksida, namun gas metana memliki masa hidup yang lebih singkat yaitu sekitar 12 tahun dibandingkan gas karbon dioksida yang bisa mencapai ratusan tahun. Dilihat dari sini, PLTA, apalagi yang memiliki PLTS terapung mempunyai potensi yang baik untuk menghadapi krisis iklim.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari kondisi bendungan di Indonesia menimbang dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan yaitu bendungan sebagai sumber energi terbarukan memiliki potensi yang strategis dalam menghadapi krisis iklim. Selain itu bendungan juga memiliki banyak manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Namun, dampak buruk dari bendungan perlu diminimalisir dan diperhitungkan supaya tidak merugikan berbagai pihak demi merealisasikan bumi berkelanjutan untuk kehidupan yang layak bagi generasi penerus bangsa.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense