Menurut situs COWI, diperkirakan batubara memproduksi 335–776 kilogram karbon dioksida per kWh. Polusi udara CO2 merupakan ancaman terbesar bagi lingkungan hidup bagi manusia dan makhluk hidup lainnya karena dapat membahayakan kesehatan seperti menghambat pernafasan. Salah satu penyebab terjadinya polusi adalah pembangkit listrik yang menggunakan batubara dan fosil. Dengan tujuan mengurangi jumlah polusi, pemerintah telah mendukung penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) seperti menjalankan skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED) untuk menambah kapasitas EBT (Darmawan, 2024).
Beragam jenis EBT telah diujicoba di Indonesia, mulai dari mikrohidro, hingga tenaga surya. Walaupun energi alternatif tersebut telah dinyatakan aman dan efektif, masing-masing memiliki kelemahannya tersendiri, seperti tenaga surya yang hanya bekerja bila matahari bersinar, atau tenaga mikrohidro yang hanya dapat digunakan apabila suatu tempat memiliki 2 wadah air sebesar danau. Sebagai komplementer dari sumber energi tersebut, geothermal atau energi panas bumi dapat saling melengkapi karena suhunya yang konstan di bawah tanah dengan penghasilan listrik lebih besar dan produksi karbon dioksida yang lebih sedikit (Assareh et al., 2022).

Baca juga : Ketemu Jokowi Di Istana, Bos Apple Kaji Bangun Pabrik Di Indonesia
Gambar 1 proses pembangkitan listrik tenaga panas bumi
Geothermal
Geothermal berasal dari dua kata Bahasa Yunani, yaitu geo yang berarti bumi, dan thermal yang berarti panas, maka geothermal adalah energi yang berasal dari panas bumi. Potensial geothermal sendiri di seluruh dunia mencapai 99% dengan banyaknya panas bumi yang memiliki suhu yang lebih tinggi 1.000° C, di mana sisa 1% memiliki panas bumi di atas 100° C. (H. Quick et al, 2010). Pembangkit listrik geothermal memiliki tingkat keefektifan sebesar 95%, sehingga membuatnya ideal untuk dijadikan sumber energi (Barasa Kabeyi & Olanrewaju, 2022).
Penggunaan geothermal telah dibuktikan oleh sebuah penelitian perbandingan sumber energi menggunakan batubara dan geothermal di China karena mengeluarkan greenhouse Gas(GHG) lebihn sedikit. Ekosistem yang baik di Anhui juga merupakan akibat dari penggunaan sumber energi panas bumi yang dapat dipulihkan dan banyak digunakan, walaupun terdapat banyak yang menggunakan batubara sebagai sumber energi(Zhang et al., 2020). Berdasarkan Thinkgeoenergy, walaupun Amerika memiliki lebih sedikit gunung berapi di Indonesia, negara tersebut bisa menjadi pemimpin di atas Indonesia, Filipina, Turki dan New Zealand dalam pemanfaatan energi geothermal dengan produksi listrik sebesar 3.900 MW. Begitu juga dengan Filipina yang telah menghasilkan 1.952 MW dengan jumlah 24 gunung berapi. Satu-satunya hambatan yang dialami oleh Filipina dalam mengembangkan energi geothermal adalah pembagian alokasi dari kekayaan negara (Ratio et al., 2020).
Gambar 1 menunjukkan proses dari pembangkitan listrik menggunakan panas bumi. Dapat dilihat bahwa posisi merupakan hal yang penting dalam penentuan lokasi wadah air tanah geothermal (Barasa Kabeyi & Olanrewaju, 2022). Untuk membangkitkan listrik sendiri, panas dari tanah akan dinaikkan ke tabung crystallizer untuk dijadikan uap yang akan digunakan untuk memutar turbin yang ada di mesin generator listrik dan kemudian dipindahkan ke transformer untuk ditingkatkan voltasenya. Setelah itu, sisa air yang tidak menjadi uap akan dikirim kembali ke bawah tanah agar dapat dipanaskan Kembali oleh magma dan dipakai lagi di kemudian hari.
Baca juga : Gandeng Pemangku Kepentingan Internet, PANDI Luncurkan Indonesia Berdaulat Digital
Tipe geothermal
Ada 3 tipe yang telah diterapkan dalam pemanfaatan energi geothermal, yaitu dry steam, flash cycle, dan binary cycle. Masing-masing jenis tersebut digunakan untuk membangkitkan listrik. Dry steam merupakan proses pemanfaatan energi geothermal dengan menggunakan air tanah yang telah berubah menjadi uap sebagai pemutar turbin di generator listrik. Kemudian, flash cycle merupakan proses yang menaikkan air tanah yang kemudian akan diubah menjadi uap dengan sekejap untuk menjadi tenaga yang memutar turbin. Terakhir terdapat proses binary cycle yang menggabungkan air panas geothermal dan air yang memiliki titik didih lebih rendah di dalam heat exchanger. Suhu panas dari air geothermal akan mendidihkan air yang lebih dingin tersebut agar dapat menjadi uap yang akhirnya memutar turbin generator listrik (California energy emission, 2024).
Hambatan dalam geothermal
Energi geothermal memerlukan Pembangunan pembangkit listrik dan pengeboran sedalam 2.900 km agar dapat menggunakan panas bumi. Biaya untuk konstruksi tersebut tentu tidak murah dan akan terus meningkat seiring waktu berjalan seperti yang dapat dilihat di world-energy.org, Pada tahun 2010, Pembangunan energi geothermal berada pada US$2.620 per kilowatt, dan sepuluh tahun kemudian, harga telah meningkat menjadi US$4.468 per kilowatt (world energy, 2022).
Baca juga : WINGS Food Luncurkan Minuman Jelly Rasa Susu dalam Cup Pertama di Indonesia
Dalam wawancara untuk studi peluang dan tantangan energi geothermal di Turkiye, masalah yang paling banyak ditunjukkan adalah biaya dari investor(Korucan et al., 2024). Para narasumber mengatakan bahwa walaupun dengan teknologi yang tersedia di jaman sekarang, risiko yang harus dihadapi oleh investor masih sangat tinggi dengan kurangnya metode untuk menentukan lokasi yang tepat. Banyak narasumber juga mengatakan bahwa biaya energi geothermal kurang efektif dibandingkan tenaga surya dan angin. Investor pun masih memiliki banyak pilihan sumber EBT dengan laba yang bisa didapatkan lebih cepat.
Indonesia sendiri merupakan negara yang berada di sekitar lempeng tektonik, sehingga memiliki banyak gunung berapi yang dapat dijadikan sebagai sumber energi panas bumi. Energi geothermal sendiri telah diteliti di daerah Maritaing, dan menunjukkan bahwa terdapat sumber mata air panas yang berada di sekitar area gunung berapi Karitemang (Rholland A. Boling et al., 2024). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki potensial geothermal sebesar 700 MWe (Megawatt elektrik). Penelitian tersebut menyertakan perkiraan agensi geologi dari kementrian ESDM yang mengatakan energi panas bumi di Indonesia bisa mencapai 24 GWe.
Penutup
Energi geothermal dapat berguna untuk semua kalangan masyarakat di Indonesia, karena negara Indonesia merupakan wilayah yang memiliki gunung berapi sehingga potensialnya melimpah. Memprioritaskan energi tersebut juga dapat mengurangi polusi dan kerusakan lingkungan. Untuk masalah efektif sendiri telah dibuktikan oleh penelitian-penelitian baik dari kementrian maupun akademik, walaupun ada masalah biaya.
Daftar Pustaka
Assareh, E., Delpisheh, M., Farhadi, E., Peng, W., & Moghadasi, H. (2022). Optimization of geothermal- and solar-driven clean electricity and hydrogen production multi-generation systems to address the energy nexus. Energy Nexus, 5. https://doi.org/10.1016/j.nexus.2022.100043
Barasa Kabeyi, M. J., & Olanrewaju, O. A. (2022). Geothermal wellhead technology power plants in grid electricity generation: A review. In Energy Strategy Reviews (Vol. 39). Elsevier Ltd. https://doi.org/10.1016/j.esr.2021.100735
Korucan, A., Derin-Gure, P., Celebi, B., Baker, D., & Vander Velde, M. (2024). Opportunities and challenges of geothermal energy in Turkiye. Energy for Sustainable Development, 79. https://doi.org/10.1016/j.esd.2024.101417
Ratio, M. A., Gabo-Ratio, J. A., & Fujimitsu, Y. (2020). Exploring public engagement and social acceptability of geothermal energy in the Philippines: A case study on the Makiling-Banahaw Geothermal Complex. Geothermics, 85. https://doi.org/10.1016/j.geothermics.2019.101774
Rholland A. Boling, Jehunias L. Tanesib a, Hadi I. Sutaji a, Laura A.S. Lapono a, & Richard Lewerissa. (2024). Re-evaluation of a geothermal system model based on high-resolution gravity field inversion: A case study of the Maritaing geothermal field, Alor Regency, East Nusa Tenggara Province, Indonesia. Kuwait Journal of Science.
Zhang, R., Wang, G., Shen, X., Wang, J., Tan, X., Feng, S., & Hong, J. (2020). Is geothermal heating environmentally superior than coal fired heating in China? Renewable and Sustainable Energy Reviews, 131. https://doi.org/10.1016/j.rser.2020.110014
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.