BREAKING NEWS
 

SIMULATOR: Skema Investasi Hijau Guna Wujudkan Masyarakat Lokal Tangguh Energi

Writer : Riska S
Editor : UJANG SUNDA
Jumat, 19 April 2024 22:25 WIB
Perawatan Proyek Panel Surya di PLTS Terapung Cirata, Jawa barat (Foto: DDTC News, 2024)

PENDAHULUAN

Krisis Iklim Dunia Berada di Tahap Pendidihan Global

Seluruh dunia saat ini tengah dihadapkan pada krisis iklim yang semakin parah setiap harinya. Bahkan menurut berita terakhir bumi tidak hanya mengalami pemanasan global, tetapi sudah sampai pada tahap pendidihan global (Annisa et al., 2023). Dilansir dari laman cnbcindonesia.com, Wakil Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus UE, Nicolaus Copernicus, mengungkapkan bahwa bulan Juli 2023 dinobatkan sebagai bulan terpanas dalam sepanjang sejarah bumi kita. Terbukti dari terjadinya peningkatan rata-rata suhu dunia sebesar 0,33 derajat celcius jauh lebih tinggi di atas rekor suhu rata-rata pada Juli 2019 silam yang mencapai 16,63 derajat celcius (CNBC Indonesia, 2023). Kondisi ini sudah semestinya menjadi perhatian serius seluruh masyarakat dunia.

Penuhi Kebutuhan Sehari-Hari Masyarakat, Indonesia Masih Mengandalkan Energi Konvensional

Kenaikan suhu global dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah emisi karbon yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Aktivitas tersebut meliputi kegiatan manusia dalam menjalankan industri yang menghasilkan limbah dan polusi, beroperasinya pembangkit listrik yang sumber energi utamanya dari batu bara/fosil, penggunaan kendaraan berbahan bakar energi konvensional, dsb (Pusparini et al., 2023). Penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat justru bertolak belakang dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi GRK yang terlepas ke atmosfer (Baroleh et al., 2023).

Baca juga : Lebaran Ketupat Manifestasi Kerukunan Masyarakat Indonesia

Inisiasi Pemerintah Membangun Pembangkit Listrik Tenaga Energi Baru Terbarukan

Pemerintah sejatinya telah melaksanakan berbagai proyek pembangunan dan menyusun strategi kebijakan untuk mengakselerasi transisi energi menuju pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang berkelanjutan. Misalnya, dalam hal pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Cirata, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro, menggencarkan pemasangan PLTS Atap di tiap-tiap rumah masyarakat melalui program SuperSUN PLN, dsb. Akan tetapi, upaya tersebut terkendala oleh biaya mahal dari investasi awal pembangunan proyek energi penunjang tercapainya target Net Zero Emission (NZE) (Permana, 2023). Akibatnya, pembangunan yang cenderung masih hanya berporos pada inisiatif dan investasi pemerintah pusat belum berjalan efektif dan efisien.

ISI

Koperasi Energi Terbarukan Indonesia Sebagai Bentuk Komitmen Organisasi Kerakyatan Dukung Target NZE Indonesia

Melalui kesadaran dan komitmen bersama para pegiat EBT, pada tahun 2017 lalu didirikanlah Koperasi Energi Baru Terbarukan Indonesia (Kopetindo). Koperasi ini memfokuskan diri pada target pembangunan EBT di berbagai daerah di Indonesia dengan memanfaatkan potensi SDA dan kearifan lokal setempat. Penerima manfaat dari keberadaan Kopetindo adalah masyarakat daerah, termasuk juga masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) (Dewan Koperasi Indonesia Daerah Kota Surabaya, 2018). Meskipun demikian, organisasi kerakyatan serupa saat ini masih belum banyak didirikan, kalaupun ada pergerakannya hanya sebatas pada cakupan lokal saja. Selain itu, terbatasnya dana dari anggota koperasi juga masih menjadi kendala ditambah dengan tidak adanya dukungan insentif yang diberikan oleh pemerintah kepada koperasi.

Baca juga : Kolaborasi Jadi Kunci Wujudkan Mudik Sehat Dan Aman

Sinergi Multi Aktor, Jawaban untuk Pemerataan Pembangunan EBT yang Berkeadilan

Berdasarkan permasalahan pada paragraf sebelumnya dapat diketahui belum efektif dan efisiennya program dan kebijakan pemerintah dalam bidang energi selama ini karena implementasi pembangunan proyek EBT masih dominan mengandalkan inisiatif dan investasi pemerintah pusat sehingga pembangunannya pun lebih banyak berpusat di wilayah Pulau Jawa-Bali dan sekitarnya. Berangkat dari akar permasalahan tersebut penulis ingin menawarkan solusi berupa ide gagasan “SIMULATOR: Sinergi Multi Aktor” dalam skema pendanaan/investasi hijau berbasis masyarakat lokal dan koperasi energi daerah untuk mewujudkan masyarakat di daerah yang tangguh energi.

Konsep SIMULATOR dalam Penyediaan Investasi Hijau di Daerah

Sinergi Multi Aktor merupakan skema kolaborasi yang terjalin antara Kopetindo, Koperasi Daerah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat setempat sesuai dengan peran masing-masing. Pemerintah Pusat sebagai penyusun regulator sekaligus memberikan insentif kepada desa-desa tangguh energi yang telah berinisiatif dan berhasil mengembangkan proyek EBT. Pemerintah Daerah sebagai penyusun regulator dalam hal menciptakan peta jalan yang dapat memudahkan daerah menuju akselerasi transisi energi ramah lingkungan dan berdikari dengan memaksimalkan potensi SDA yang tersedia di masing-masing daerah.

Kopetindo menjadi pionir sekaligus inspirasi untuk menggerakkan koperasi daerah supaya nantinya dapat berdaya menjadi koperasi energi daerah, memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat daerah terkait pentingnya pembangunan pembangkit listrik tenaga EBT di daerah, bekerja sama dengan berbagai pihak dalam menjalankan misinya, dan mengawasi pembangunan proyek, pelaksanaan, serta pengelolaannya. Masyarakat merupakan elemen paling penting dalam menyukseskan pelaksanaan pembangunan EBT di daerah. Sebab, kontribusi aktif dan komitmen bersamanya dapat menentukan berhasil atau tidaknya proyek mulai dari pembangunan, pelaksanaan, hingga tahap pengelolaan secara berkelanjutan.

Baca juga : Bamsoet Ajak Masyarakat Segera Laporkan SPT Tahunan 2023

Keunggulan Skema SIMULATOR

Skema SIMULATOR dalam menyediakan investasi hijau daerah memiliki berbagai kelebihan jika diterapkan di Indonesia. Adapun kelebihannya, antara lain (Yana et al., 2022): 1) tersedianya pendanaan EBT di daerah secara lebih merata; 2) dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan memberdayakan masyarakat daerah; 3) berbagai pihak terkait dapat berkontribusi dalam pembangunan proyek EBT sesuai peran masing-masing; 4) dapat meringankan beban pemerintah pusat dalam pembangunan proyek EBT ramah lingkungan; 5) akselerasi transisi energi terbarukan yang berkelanjutan; serta 6) secara jangka panjang dapat menghasilkan banyak desa tangguh energi.

PENUTUP

Pembangunan proyek-proyek ramah lingkungan menuju NZE adalah misi penting seluruh negara di dunia yang harus dicapai dengan penuh komitmen bersama. Meskipun biaya yang dibutuhkan pada investasi awalnya tidak sedikit tetapi jika pemerintah, organisasi, maupun masyarakat turut dilibatkan untuk saling bergotong royong (SIMULATOR), maka hambatan tersebut justru akan menjadi kekuatan yang bisa mempersatukan.

Kelebihan Skema ini yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung salah satunya adalah dapat menyediakan pendanaan untuk pembangunan EBT di daerah secara merata dan berkeadilan sehingga tercipta desa-desa tangguh energi. Adapun secara tidak langsung dapat meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Di samping itu, terciptanya desa tangguh energi yang telah memiliki rekam jejak yang baik nantinya dapat menarik minat investor asing untuk berinvestasi pada proyek-proyek EBT di Indonesia sehingga peran serta multi aktornya dapat ditingkatkan ke model Pentahelix atau bahkan N-helix yang cakupan aktornya lebih kompleks.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense