Sebelumnya
Perpres tersebut didorong karena terbatasnya bahan baku tebu dan juga terbentur dengan masalah pangan
“Jadi, Pemerintah mendorong pengembangan bahan bakar nabati berbasis potensi lokal dan akan menciptakan pasar baru bagi produk pertanian lokal,” jelasnya.
Arifin menambahkan, sejauh ini program bioetanol belum dapat berjalan optimal. Pada 2008-2009 dan 2015-2016, pencampuran bioetanol hanya dilakukan dalam skala kecil dan pada akhirnya harus dihentikan karena kurangnya bahan baku, harga bahan baku yang mahal, serta terbatasnya infrastruktur pendukung program bioetanol.
Baca juga : Bos Bulog Tenang Punya Stok 1,63 Juta Ton Beras
Pada kesempatan itu, Arifin juga memaparkan bahwa konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia pada 2022 meningkat 30 persen dibandingkan 10 tahun sebelumnya atau pada 2012.
Hal tersebut dikarenakan terjadinya peningkatan konsumsi BBM di sektor industri dan transportasi.
Menurut dia, sebagian besar dari kebutuhan domestik tersebut berasal dari impor, terutama bensin.
Baca juga : Duh, Taman Di Jakarta Jadi Tempat Esek-esek
Karena itu, sebut Arifin, Pemerintah tengah berusaha mengurangi ketergantungan impor minyak, dengan mengembangkan BBN. Untuk diketahui, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki sumber BBN yang besar.
Seperti program biodiesel, lanjut Arifin, telah ditetapkan pada 2008 dengan menerapkan campuran 2,5 persen. Hal itu terus meningkat hingga pada Februari 2023 ditetapkan mandatori campuran biodiesel mencapai 35 persen atau B35.
Sekadar catatan, Kementerian Investasi/BKPM mengkonfirmasi pembentukan Satgas Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, bertujuan untuk menyiapkan bahan baku biofuel pengganti pertalite atau pertamax yang bakal mulai digunakan pada 2027. DIR
Baca juga : Awas, Jangan Terpeleset!
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 7, edisi Sabtu, 04 Mei 2024 dengan judul "Atasi Polusi Udara Pemerintah Lagi Hitung Subsidi Untuk Bioetanol"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.