RM.id Rakyat Merdeka - Kebijakan hilirisasi nikel yang diterapkan Indonesia dikritik. Pemerintah pun tak ambil pusing. Pasalnya, industri nikel memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Kita bakal mendapat banyak keuntungan dari program tersebut.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, industri hilirisasi nikel kini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi.
“Saya ingat ketika kita memulai hilirisasi nikel hampir 10 tahun yang lalu, sekarang hilirisasi nikel menjadi tulang punggung ekonomi kita,” kata Luhut di sela kegiatan World Water Forum (WWF) ke-10 di Nusa Dua, Bali, seperti dikutip Kamis (23/5/2024).
Saat Indonesia belum menggalakan hilirisasi nikel pada 2014, Luhut menyebut ekspornya hanya 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 18 triliun. Namun, setelah Pemerintah melarang ekspor mentah nikel dan melakukan hilirisasi, nilai ekspornya melonjak menjadi 34 miliar dolar AS atau Rp 543,21 triliun.
Berkat Hilirisasi, nilai ekspor nikel Indonesia diyakini akan terus meningkat.
Baca juga : DPRD Patok Peserta Nggak Nganggur Lagi
“Saya percaya dengan ekosistem nikel ini, pada 2030 ekspor kita akan menjadi sekitar 70 miliar dolar AS (Rp 1.118 triliun). Jadi, Anda melihat besarnya industri hilirisasi nikel,” ucapnya.
Luhut menjelaskan, Pemerintahan Jokowi tegas melarang ekspor mineral mentah. Salah satunya nikel, untuk mendorong hilirisasi tambang.
Dia membantah, kebijakan Indonesia itu dibilang sebagai tindakan yang proteksionis.
“Itu tidak benar sama sekali. Nikel itu hanya satu turunan yang kita larang sampai stainless steel. Kepada katoda, anoda dan sebagainya kita bebaskan, mau diekspor silakan aja. Layer kedua ini kita harus menikmati karena itu yang paling banyak nilai tambahnya buat bangsa Indonesia,” tegasnya.
Menurutnya, Pemerintah Indonesia paham sekali mengenai penawaran dan permintaan, serta mekanisme pasar. Mereka yang mengkritik hilirisasi nikel, tidak senang jika Indonesia maju.
Baca juga : Manchester City Vs Manchester United, Duel Panas Berburu Gelar
“Kita jangan mau di-bully sama negara-negara yang pengen kita tetap terbelakang. Bangsa ini bangsa besar. Kita katakan ini sudah benar,” tegasn Luhut.
Ekonom senior sekaligus Pendiri dan Direktur Eksekutif Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia Hendri Saparini mengatakan, tren ekspor Indonesia akan bergantung ke pasar China karena didorong oleh ekspor produk turunan nikel. Hal ini sejalan dengan maraknya investasi smelter nikel.
Menurut Hendri, rata-rata pertumbuhan ekspor Indonesia sepanjang 2017-2023 didominasi China dengan angka 24 persen. Disusul ekspor ke India 12,26 persen, ASEAN5,3 persen, Jepang 2,73 persen, AS dan Uni Eropa masing-masing 2,6 persen.
Sementara, kebijakan hilirisasi yang dicanangkan Pemerintah, kata dia, baru berkontribusi 30 persen pada total investasi pada 2023.
Padahal, jika menilik lebih dalam, hilirisasi ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. Program hilirisasi dapat mendukung industri dan menambah nilai barang serta mendukung ekspor.
Baca juga : Rumor Pergantian Pelatih Chelsea, Pochettino Ditendang?
“Jadi, diperlukan upaya lebih lanjut untuk membangun ekosistem hilirisasi yang kuat,” ujarnya.
Karena itu, lanjut Hendri, diperlukan strategi industri yang komprehensif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Termasuk melibatkan sektor-sektor lain untuk mengurangi ketergantungan pada sektor tertentu. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Jum'at, 24 Mei 2024 dengan judul "Indonesia Dikritik Soal Kebijakan Hilirisasi, Luhut: Mereka Yang Bully Nggak Senang Kita Maju"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.