BREAKING NEWS
 

Rangkul Australia, OJK Perkuat Climate Risk Management Industri Perbankan

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Sabtu, 29 Juni 2024 12:31 WIB
Kerja sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Kedutaan Australia dan Prospera. (Foto: OJK)

RM.id  Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kedutaan Australia dan Prospera (Australia Indonesia Partnership for Economic Development), meningkatkan kemitraan untuk memperkuat Climate Risk Management bagi industri perbankan di Indonesia. Ini sebagai tindak lanjut penerbitan Panduan Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS) pada Maret 2024.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan, kemitraan yang telah terjalin akan memperkuat hubungan antara Australia dan Indonesia dalam menghadapi tantangan dan peluang risiko iklim di masa depan. “Kami berharap kolaborasi ini akan memberikan hasil yang penting, sehingga perbankan akan dilengkapi dengan panduan dan data yang lebih baik mengenai Climate Risk Management,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (29/6/2024).

Sementara Indonesia, sambung Dian, akan mampu melakukan penilaian dampak iklim secara bank-wide dan mengembangkan kerangka peraturan untuk menilai risiko iklim. Ia membeberkan, kerja sama ini akan berlangsung selama dua tahun dan meliputi enam cakupan utama yang meliputi beberapa hal. Seperti, pengembangan panduan manajemen risiko iklim dengan data yang lebih rinci. 

Baca juga : RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Industri Otomotif

Lalu, pengembangan skenario climate risk stress test untuk Indonesia berdasarkan Skenario Network for Greening the Financial System (NGFS) terbaru. Selanjutnya, pengembangan metodologi perhitungan dampak risiko iklim terhadap kinerja debitur bank baik untuk perusahaan besar maupun UMKM.

“Serta dampak terhadap kinerja keuangan bank (bottom-up stress test),” jelas Dian.

Adsense

Kemudian, pengembangan data proyeksi risiko fisik maupun risiko transisi yang sesuai dengan kondisi di Indonesia hingga 2100. Perhitungan dampak risiko iklim terhadap kinerja industri perbankan dari sisi regulator (Climate Impact Assesment for Banking Industry Wide).

Baca juga : BSI International Expo 2024 Perkuat Inklusi Dan Literasi Perbankan Syariah

“Dan penyelenggaraan capacity building untuk OJK dan bank, terkait pengembangan manajemen Risiko Iklim,” tuturnya.

Dian menegaskan, outcome atas kerja sama tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan kebijakan terkait risiko iklim di sektor perbankan ke depan, untuk mengatasi tantangan dalam pengembangan risiko iklim. 

Di antaranya, mencakup keterbatasan data emisi dan data bencana, serta kapasitas dan expertise dalam membangun metodologi perhitungan dampak risiko iklim. 

Baca juga : Gandeng Al-Azhar Cairo Mesir, BSI Perkuat Ekosistem Islam Di Sektor Pendidikan

Selain itu, kerja sama ini diharapkan dapat mendukung perbankan untuk dapat mengembangkan, mengukur dan memitigasi dampak iklim, yang pada akhirnya diharapkan akan mendukung arah kebijakan transisi menuju Net Zero Emissions (NZE).

Acara ini dihadiri oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia Penny Williams, Direktur Prospera David Nellor, Managing Director and Head of Asia-Pasific and Middle East of Moody’s Wael Jadallah. Lalu sebanyak 18 bank peserta piloting CRMS di tahun 2024, dan berbagai pemangku kepentingan dari Kementerian dan Lembaga.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense