RM.id Rakyat Merdeka - Beberapa tahun terakhir, berbagai platform e-commerce bermunculan di Tanah Air dan tumbuh dengan drastis. Bank Indonesia mencatat, di 2019, jumlah transaksi e-commerce per bulannya mencapai Rp 11-13 triliun. Berdasarkan prediksi McKinsey, pertumbuhan e-commerce di Indonesia meningkat delapan kali lipat dari total belanja online senilai 8 miliar dolar AS pada 2017 menjadi 55 miliar dolar AS hingga 65 miliar dolar AS pada 2020.
Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Pungky P Wibowo, dalam acara Ngobrol@TEMPO bertemakan e-commerce atau bisnis online. Diskusi ini tidak hanya membahas e-commerce yang memberi kemudahan di zaman yang serba cepat dan instan ini, tetapi juga dari sisi dari perkembangan industri digital.
Baca juga : Bidik Kaum Milenial, BNI Hadirkan Pembukaan Rekening Digital
"Semakin berkembangnya pasar e-commerce ini, turut mengubah gaya hidup masyarakat dalam sistem pembayaran. Hal ini dapat terlihat dari beberapa e-commerce yang paling diminati pengguna seperti Shopee dan Tokopedia, yang terbukti pembayaran elektronik semakin meningkat saat belanja online," papar Pungky dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa (26/11).
Data Survey Perilaku Belanja Online 2019 yang dirilis Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT) juga menunjukkan, saat ini pembayaran secara elektronik lebih banyak diminati. Walaupun belanja dilakukan secara offline, seperti di pusat perbelanjaan, tetapi sebagian besar (70 persen) responden melakukan pembayaran secara elektronik. Pembayaran elektronik diminati baik laki-laki maupun perempuan dan di semua kelompok usia.
Baca juga : Pemerintah Tunjuk McKinsey Jadi Konsultan Pemindahan Ibu Kota
"Awareness masyarakat terhadap keberadaan e-commerce pun sudah cukup tinggi. Tingkat awareness kunjungan dan pembelian yang tinggi pada e-commerce telah mendorong pada cara pembayaran secara elektronik. Saat ini, jenis pembayaran yang paling banyak dilakukan ketika belanja online adalah dengan cara mentransfer uang melalui internet banking atau mobile banking (37 persen). Cara ini telah menggeser cara transfer melalui ATM (20 persen). Sementara itu, uang elektronik berada di urutan ketiga sebagai alat pembayaran ketika berbelanja di e-commerce," paparnya.
Menariknya, pembayaran dengan cara tersebut banyak dilakukan ketika berbelanja di e-commerce. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa konsumen telah memanfaatkan sistem pembayaran nontunai dalam transaksinya.
Baca juga : Di Francesco, Tumbal Pertama Keganasan Liga Italia
"Hal ini tentunya membuka peluang layanan keuangan berbasis teknologi untuk terus berkembang di Indonesia, salah satunya industri pembayaran digital. Uang elektronik pun diprediksi akan semakin banyak diminati dalam setahun mendatang dan menggeser cara transfer melalui internet banking atau mobile banking yang saat ini paling banyak dilakukan," tambahnya.
Pemanfaatan sistem pembayaran digital pun mendukung masyarakat dalam menggunakan transportasi online, parkir, membayar tol, membeli makanan hingga transaksi di berbagai e-commerce. "Tentu ada banyak aspek dan pihak yang terlibat di dalamnya, sehingga perlu diketahui publik," tandasnya. [USU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.