BREAKING NEWS
 

Prof Didik Beberin Cara Agar Ekonomi Tumbuh 8 Persen Di Era Prabowo

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Senin, 23 September 2024 10:53 WIB
Prof Didik J Rachbini. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonom Senior Indef, Prof. Didik J. Rachbini menilai, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7-8 persen di era Prabowo akan sangat sulit tercapai tanpa adanya strategi kebijakan yang optimal.

Menurutnya, Indonesia harus menerapkan kebijakan outward looking yang berfokus pada peningkatan produktivitas dan daya saing di pasar internasional. "Targetnya bukan hanya pasar lokal, tapi bersaing dengan negara maju dan berkembang yang sudah berhasil keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah, seperti Malaysia," jelas Prof. Didik dalam diskusi Prospek Kebijakan Ekonomi Prabowo yang diselenggaran oleh Indef dan Universitas Paramadina, Minggu (23/9/2024).

Ia menambahkan, situasi global saat ini berbeda dibandingkan era 80-an, dengan proteksionisme yang menguat di banyak negara. Namun, pasar-pasar baru seperti Asia Barat, Timur Tengah, Afrika Utara, dan Afrika berpotensi menjadi target pasar bagi Indonesia.

Baca juga : Pemerintah Diminta Jaga Pekerja Agar Tak Turun Dari Kelas Menengah

Menurut Rektor Universitas Paramadina ini, ada beberapa langkah penting yang harus diambil oleh pemerintahan Prabowo jika ingin mencapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Pertama adalah meningkatkan income tax ratio untuk mengurangi ketergantungan pada utang.

Kebijakan kuota perdagangan juga mendapat perhatian dari Prof. Didik. Dia mengusulkan agar kebijakan perdagangan fokus pada market access, seperti yang diterapkan di era Orde Baru, di mana duta besar diberi tugas untuk meningkatkan ekspor.

Adsense

Menurut Prof. Didik, tarif ekspor juga harus dinegosiasikan ulang dengan negara-negara tujuan. Misalnya, ekspor tekstil Indonesia ke Eropa dikenakan pajak dua kali lipat dibandingkan Vietnam dan Amerika. "Insentif ekspor dengan suku bunga tinggi seperti sekarang akan sulit berhasil," katanya.

Baca juga : Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Hingga Akhir 2024

Prof. Didik juga menekankan pentingnya identifikasi sektor ekspor yang siap beralih ke industrialisasi. Ia menyebut contoh industri kelapa sawit, yang memiliki lebih dari 80 jenis produk turunan. Malaysia, yang telah mengembangkan lebih dari 100 turunan produk sawit, telah berhasil lepas dari jebakan negara berpenghasilan menengah dan kini menjadi negara industri maju.

Kemudian, kata dia, peningkatan keterampilan dan transfer teknologi adalah langkah krusial yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Industri seperti karet, nikel, dan batu bara perlu diolah lebih lanjut dalam negeri melalui hilirisasi.

Menurutnya, produk perikanan seperti udang dan rumput laut, jika diindustrialisasikan, bisa meningkatkan nilai tambahnya hingga 4-5 kali lipat. Prof. Didik menyarankan agar teknologi yang diperlukan untuk pengembangan ini diimpor jika Indonesia belum mampu memproduksinya sendiri.

Baca juga : Anies Diminta Mencontoh SBY, Paloh, Wiranto Dan Prabowo

Prof. Didik lalu mengutip studi Bank Dunia yang menyatakan bahwa ratusan negara terjebak dalam middle income trap. Menurutnya, solusi untuk menghindari jebakan ini adalah melalui inklusi teknologi, pengembangan keterampilan, dan langkah-langkah strategis lainnya.

“Jika langkah-langkah ini tidak dijalankan secara serius, maka Indonesia hanya akan stagnan dan sulit mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan," tutup Prof. Didik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense