RM.id Rakyat Merdeka - Upaya penguatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, sangat penting. Karena tujuan itulah, dilaksanakan Focus Group Discussion di sejumlah kampus di Indonesia. Di Jakarta, diskusi berlangsung di Kampus Universitas Indonesia, pada Senin (23/9/2024), dengan tema: Pengembangan Infrastruktur untuk Ketahanan Ekonomi Nasional. Sebelumnya, diskusi tentang penguatan BUMN telah berlangsung di Kampus ITB Bandung, pada 12 September 2024.
Ada dua narasumber dari BUMN yang hadir dalam diskusi di Kampus UI, Depok. Yakni Director Risk Management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Setiyo Wibowo, Direktur Operasional PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Reni Wulandari. Sedangkan dari UI, hadir sebagai penanggap yaitu Kepala Lembaga Management FEB-UI Yasmine Nasution dan Jessica Sjah, Dosen Fakultas Teknik yang juga Kepala Divisi Laboratorium Struktur Material di Teknik Sipil di UI.
Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan UI, Arief Wibisono Lubis, dalam pengantar diskusi mengatakan, ekonomi nasional memiliki ciri khas yang berbeda dengan negara lain. Dan BUMN punya peran yang sangat strategis. Keberadaannya dibutuhkan dalam pembangunan nasional.
“Mewujudkan Indonesia Emas 2024, perlu dukungan situasi ekonomi yang resilient, yang bisa membuat Indonesia keluar dari middle income trap. Dan faktor pendorongnya adalah kekuatan BUMN,” ujar Arief.
Director Risk Management BTN Setiyo Wibowo dalam paparannya bertema: Transform and Adapt to Achieve Sustainable Growth, mengatakan, Bank Tabungan Negara (BTN) mendukung lima prioritas Kementerian BUMN untuk ikut mewujudkan cita-cita menuju Indonesia Emas. Yaitu inovasi model bisnis, pengembangan talenta, kepemimpinan teknologi (transformasi digital), peningkatan investasi, serta peningkatan nilai ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Sejak prioritas itu dilaksanakan, dampaknya pada BUMN, khususnya BTN terlihat dari capaian kinerja yang positif. Sejak 2019 hingga 2023, aset BTN telah mencapai Rp456,37 triliun (per Agustus 2024). Kredit juga terus tumbuh, per Agustus 2024 tercatat sebesar Rp355,27 triliun. “Atau mencapai 13,05 persen yoy (year on year), lebih tinggi dari pertumbuhan pasar,” kata Setiyo.
Pendanaan pihak ketiga juga tumbuh bagus. Per Agustus 2024 meningkat sebesar 16,49 persen YoY menjadi Rp373,88 triliun. Dari sisi profitabilitas, laba BTN per Agustus 2024 tercatat mencapai Rp1,81 triliun. NPL terus membaik. Sekitar 3 persen.
Selama 47 tahun, fokus BTN adalah pada pembiayaan perumahan. First mortgage pertama BTN dilakukan tahun 1976, dan sampai saat ini telah menyalurkan kredit perumahan atau KPR sebanyak lebih dari 5 juta unit. BTN menguasai sekitar 85 persen ekosistem perumahan. Dan berpartner dengan lebih dari 7.000 developer dari level usaha kecil menengah atau UMKM sampai korporasi. Juga bermitra dengan lebih dari 3 ribuan notaris dan penilaian agunan ral estate atau KJPP.
“BTN dulu sangat KPR sekali, karena the strongest value position-nya memang di situ. Dan menyasar pada masyarakat berpenghasilan rendah. Tetapi, sejak lima tahun lalu kami melakukan transformasi agresif di area pendanaan,” ujar Setiyo.
Baca juga : Kolaborasi Pertamina & PLN Penting Untuk Ketahanan Energi Nasional
BTN kini menyasar segmen baru, yang disebut emerging affluent, atau kelompok menengah. Sejak tahun lalu, BTN mengembangkan digital platform yang berbeda dari digital bank pada umumnya. Dalam platform BTN-mobile dikembangkan digital mortgage yang lengkap. Bukan hanya melihat contoh rumah dalam bentuk foto dan video, tetapi juga bisa simulasi cicilan, dan langsung apply KPR. Bahkan setelah di-approve kreditnya, aplikasi itu juga bisa digunakan untuk fitur-fitur yang terkait dengan kebutuhan perumahan. Semisal service AC, cleaning dan seterusnya. Dan tahun ini, pertumbuhan dari BTN-mobile cukup agresif. Lebih dari 50 persen pengajuan KPR dilakukan melalui BTN digital.
“Targetnya, pada 2025 nanti, BTN akan menjadi one stop financial solution untuk nasabah khususnya di ekosistem perumahan,” ujarnya.
BTN juga melakukan inovasi dalam bisnis modelnya. Dulu, proses kredit dikerjakan di cabang-cabang, sehingga BTN memiliki banyak cabang kantor. Akibatnya, proses sangat bergantung pada orang, dan tidak memiliki standar layanan yang sama. Sejak 2020, dilakukan banyak perubahan. Semua proses dikerjakan tersentralisasi, menggunakan mesin dan layanan cepat, bahkan auto decisioning atau otomatisasi. Kualitas layanan sama, dan bahkan menjadi lebih baik. Untuk keperluan ini, BTN melakukan kerjasama dengan lebih dari 25 partner start up bidang property. “Transaksi digital BTN pun tumbuh luar biasa. Sekitar 84 persen dalam dua tahun,” ujarnya.
Selanjutnya, untuk memperkuat implementasi ESG dan peningkatan investasi, BTN meningkatkan pembiayaan pada perumahan-perumahan yang mengusung konsep hijau. BTN bahkan telah meresmikan pilot project yang dinamai Rumah Rendah Emisi bersama 8 mitra, dengan total 1.200 unit. Targetnya adalah pembiayaan 150 ribu rumah dalam lima tahun.
Menurut Setiyo, properti adalah industri yang minim impor, karena mayoritas produknya disuplai dalam negeri. Pasir, kayu, semua bahan bangunan. Termasuk Selain itu, sektor perumahan juga tergolong padat karya. Satu pembangunan rumah sederhana dikerjakan lima orang. Kalau BTN mengerjakan 200 ribuan rumah per tahun, maka ada sekitar 1 juta tenaga kerja yang terserap. “Apalagi, saat pembangunan perumahan, bakal ada multiplier effect, yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Bagaimana strategi BTN dalam lima tahun ke depan? Setiyo mengatakan, BTN akan tetap memperkuat positioningnya dalam pemberdayaan keluarga Indonesia khususnya dalam penyediaan dan kepemilikan rumah. BTN akan menjadi mitra Pemerintah dalam sektor perumahan dan pembiayaannya. BTN sebagai bank akan menjaga kualitasnya, sekaligus melakukan efisiensi operasional dengan baik melalui adopsi teknologi yang up to date dan otomasi proses. BTN juga akan. Membangun engine tabungan untuk menjaga likuiditasnya. Ke depan, BTN ingin menjadi tidak sekedar bank mortgage, tetapi beyond mortgage, dan menjadi consumer bank pilihan keluarga. Layanan lengkap, customer experience yang baik.
Menanggapi kinerja dan transformasi di BTN, Dr Yasmine Nasution mengatakan,
strategi yang dilakukan BTN sudah sejalan dengan prioritas kerja BUMN. Dan hasilnya, BTN berhasil survive dalam menghadapi persaingan industri. “Tidak mentang-mentang BUMN, lalu (BTN) merasa dilindungi. Ini buktinya, BTN terus berusaha melaju menghadapi apapun rintangan,” ujarnya.
Menurut Yasmine, melakukan inovasi teknologi di sebuah perusahaan tidaklah mudah. Mengubah business model, artinya juga mengubah value chain perusahaan. BTN dalam hal ini, berarti juga mengubah dan memetakan ulang strategi bisnisnya, termasuk para mitra stakeholder hingga SDM di internalnya. Harus pilih mana yang memberikan value chain yang paling bagus.
Baca juga : Resmi Buka Dealer Pertama, BYD Luncurkan Kendaraan Ramah Lingkungan
Saat ini, semua perusahaan melakukan transformasi teknologi. Dan wujud inovasi tertinggi adalah memberikan layanan terbaik kepada konsumen. “Level of innovation paling tinggi di business model ini sudah dilakukan oleh BTN,” kata Yasmine.
Transformasi juga erat kaitannya dengan resources dan capability. Kalau tidak memiliki capability yang cukup, maka resources-nya tidak bisa dimanfaatkan. Sehingga, talent management adalah hal yang penting. Saat BTN masuk ke segmen atau market baru, ke kelas menengah-atas, maka dampaknya adalah kapabilitas SDM harus ditingkatkan. Terlebih pemanfaatan teknologi. “Ibaratnya, mau lari cepat maka kemampuannya harus cukup,” katanya.
Satu hal yang menarik ditanggapi yaitu mengenai pengembangan green housing atau rumah ramah lingkungan. Menurut Yasmin, tantangannya bukan hanya mengembangkan atau menyedikan rumahnya. Melainkan juga memberikan pemahaman kepada mitra dan stake holder terkait, mengenai apa itu green housing, dan bagaimana manfaatnya. “Kami pernah membuat survei kecil. Bertanya kepada masyarakat, apakah paham tentang konsep green? Mereka jawab paham dan tahu manfaatnya. Tapi, saat ditanya apakah mau membeli? Mereka masih mikir-mikir,” katanya. Sebab, produk yang mengusung konsep green biasanya lebih mahal. Sehingga, penyediaan rumah ramah lingkungan, sebaiknya juga dipertimbangkan, harganya terjangkau.
Ada mahasiswa yang bertanya, bagaimana caranya agar anak muda semangat membeli rumah. Sebab, banyak anak muda yang saat ini berpikiran, rumah itu bukan aset tetapi liabilitas, beban yang harus diselesaikan dalam jangka panjang. Lalu apa hubungannya, kepemilikan property bagi anak muda dikaitkan dengan upaya menuju Indonesia Emas 2045.
Menjawab ini, Setiyo mengatakan, untuk mencapai visi Emas 2045, anak muda membutuhkan gizi, pendidikan dan wealth atau papan. Rumah berkaitan dengan kualitas kesejahteraan manusia atau anak muda. Tantangan BTN adalah menyediakan rumah dengan harga terjangkau untuk anak-anak muda.
“Di sejumlah negara, membeli rumah itu sulit. Di Indonesia masih affordable. Dan BTN memastikan menjadi bagian dari komponen bangsa yang membuat rumah itu menjadi affordable,” katanya.
Semen Indonesia
Selain BTN, Semen Indonesia atau SIG juga memaparkan capaian kerjanya selama 10 tahun terakhir yang sejalan dengan strategi Kementerian BUMN. Direktur Operasional SIG Reni Wulandari menceritakan, pabrik SIG yang paling tua, berdiri pada tahun 1910. Tapi, kini tetap berproduksi dengan menerapkan teknologi baru. Mampu menghasilkan produk yang bisa menjawab problem society saat ini. Bahkan, banyak menggunakan komponen dalam negeri.
Kapasitas produksi SIG Holding company saat ini mencapai 56,5 juta ton. Menguasai market share sekitar 50 persen. Namun menurut Reni, industri semen saat ini menghadapi hyperkompetitif. Fasilitas produksinya di domestik 100 persen di atas permintaan. Produksi total semen di seluruh Indonesia mencapai 122 juta ton, tetapi serapannya hanya sekitar 60-an juta ton. “Kami dalam fase totally red ocean,” ujarnya. Karena itu, SIG tak kenal lelah menciptakan produk-produk yang bisa menjadi game-changer, karena situasi domestik yang penuh tantangan.
Baca juga : Mowilex Recyled, Cat dengan Jejak Karbon Rendah yang Ramah Lingkungan
SIG bukan hanya memproduksi semen, tetapi juga produksi di hulu, meliputi mortar, precast dan sebagainya. Dan untuk menjawab tantangan zaman, saat ini SIG juga fokus memproduksi semen yang ramah lingkungan. Yaitu semen dengan bahan baku dari limbah industri, atau material yang tidak terpakai dalam industri. Misalnya fly ash, gypsum, dan produksi sampingan dari industri lain. Juga dari botol, bekas cup mie instan, bungkus makanan dan sebagainya. Bahan-bahan tersebut diproses lagi untuk menjadi material semen.
Selain itu, dalam proses produksinya, SIG juga akan mengurangi ketergantungan pada energi fosil dalam penyediaan energinya, dengan membangun solar panel untuk listrik.
“Kami terus berusaha mengurangi emisi karbon dalam produk-produknya. Dulu, dalam produksi semen bisa menghasilkan 800 kilogram CO2 Eq, sekarang sudah turun sampai 585 kilogram CO2 eq per ton semen,” ujar Reni. Dengan pemanfaatan limbah, itu artinya SIG turut membangun sirkular ekonomi untuk masyarakat.
Apakah green cement dari bahan baku limbah ini sama kualitasnya dengan produk non green? Reni menjawab, semua produk semen terverifikasi oleh lembaga yang kredibel. Kualitasnya sesuai dengan standar yang berlaku, tidak kalah dengan semen yang menggunakan bahan konvensional.
Tentang digitalisasi, SIG sudah melakukan transformasi di pabriknya. Bahkan ada peralatan yang dilengkapi sensor dan AI. Dan memberi peringatan, saat kondisi operasional tidak stabil. “Kalau dalam sekian menit tidak melakukan hal tertentu, akan memberikan sebuah alarm bahwa pabrik akan boros energi,” katanya. Teknologi ini diterapkan pada pabrik konvensional, agar tetap bisa beroperasi secara lebih efisien.
Selain itu, SIG juga sudah menerapkan teknologi baru, yang pertama di Indonesia. Melakukan intervensi pembakaran dengan injeksi hidrogen murni. Tujuannya, agar temperatur produksi menjadi turun, dan emisi karbonnya rendah. “Ini adalah kombinasi teknologi yang digunakan oleh SIG, untuk menghasilkan produk yang green, sekaligus menekan cost. Bermanfaat untuk lingkungan dan menghasilkan profit untuk perusahaan,” ujarnya.
Menanggapi paparan dari SIG, Jessica Sjah, Dosen yang juga Kepala Divisi Laboratorium Struktur Material di Teknik Sipil UI ini mengatakan, takjub dengan peran dan upaya-upaya yang sudah dilakukan SIG demi ikut mewujudkan visi Emas 2045.
Menurutnya, inovasi model bisnis akan berjalan baik dan lancar, apabila ada keterkaitan atau saling gandeng tangan antara industri, pelaku industri dan dunia akademisi. Karenanya, dia mengajak agar SIG bisa bekerjasama dengan UI, sehingga bisa menemukan banyak inovasi produk. Salah satu contoh menarik dipaparkan Jessica, UI pernah melakukan penelitian dan bekerjasama dengan sebuah sekolah menengah di kawasan Tangerang, memanfaatkan serbuk dari kerang hijau, yang biasanya menjadi limbah, dimanfaatkan untuk substitusi semen.
Penelitian seperti itu, bagi mahasiswa bisa menjadi skripsi, tesis atau disertasi. Sementara bagi perusahaan, bisa jadi bahan untuk inovasi produk, dan bermanfaat untuk pembangunan negara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.