RM.id Rakyat Merdeka - Upaya penyehatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sakit oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) bisa dipastikan akan jalan terus meskipun ganti Pemerintahan. Sebab, program PPA berkelanjutan.
PT PPA saat ini masih mengkaji 14 BUMN sakit. Melihat masa tugas periode Pemerintah Jokowi yang tinggal menghitung hari, nasib 14 perusahaan pelat merah itu akan ditentukan Pemerintah baru.
Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto memprediksi, ada sejumlah opsi yang memungkinkan dilakukan oleh Kementerian BUMN dalam memutuskan nasib ke-14 pasien PPA tersebut.
Salah satunya, langkah divestasi. Pilihan divestasi bisa diambil jika produk atau jasa BUMN tersebut dianggap sudah tidak strategis.
Baca juga : Baterai Mobil Listrik RI Siap Banjiri Pasar Dunia
Divestasi merupakan langkah pengurangan nilai aset perusahaan, dengan tujuan untuk meraup keuntungan lebih banyak di masa mendatang
“Di samping itu, sudah terlalu banyak produk substitusi di BUMN. Maka dalam situasi ini, opsi divestasi bisa dilakukan,” ucap Toto kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Ia menegaskan, apa yang dikerjakan PPA saat ini adalah memperbaiki kinerja BUMN sakit. Jika sudah berubah menuju kinerja yang lebih baik, maka opsi selanjutnya, apakah BUMN tersebut akan didivestasi atau dipertahankan.
Posisi ideal BUMN, sambung Toto, adalah jika produk atau jasanya masih kompetitif dan dibutuhkan publik. Selain itu, si BUMN juga memiliki tingkat kesehatan finansial yang relatif baik.
Baca juga : Budaya Betawi Masuk Kurikulum Pendidikan
“Menteri BUMN Erick Thohir, berkeinginan hanya punya sekitar 40 sampai 45 BUMN yang menjadi target ideal pada 2024,” katanya.
Meski tahun ini belum tercapai, namun diharapkan pada tahun selanjutnya keinginan Menteri terwujud, kendati pemerintahan baru sudah berjalan.
Sehingga menimbulkan pertanyaan, apakah di masa pemerintahan selanjutnya masih akan ada BUMN yang dilikuidasi? Toto menyebut, semua tergantung kebutuhan di masa depan.
“Mungkinkah Indonesia akan punya lebih sedikit BUMN di masa depan, tetapi lebih kompetitif dan berdaya saing,” katanya balik bertanya.
Baca juga : Lanjutkan Karier Di Amerika, Pogba ‘Dicerai’ Nyonya Tua
Saat ini sebagian BUMN sudah berubah status menjadi anak BUMN, karena langkah restrukturisasi. Misalnya karena pembentukan holding, proses merger, dan lainnya. Sehingga jumlah perusahaan pelat merah hingga kini sudah jauh berkurang.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.