RM.id Rakyat Merdeka - Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen, Pemerintah tidak mau hanya mengandalkan mesin ekonomi konvensional. Melainkan mesin ekonomi baru, yakni ekosistem digital. Sektor ini diyakini memiliki potensi menggiurkan.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, mesin ekonomi konvensional perlu direvitalisasi dan dimaksimalkan kapasitasnya. Sehingga mampu mendorong peningkatan produktivitas dan investasi.
“Untuk mesin ekonomi baru harus terus digali, agar mampu menjadi akselerator pertumbuhan di masa depan. Indonesia saat ini terus mengembangkan ekosistem digital, untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi tersebut,” kata Airlangga dalam keterangan resmi Kemenko Perekonomian, Minggu (1/12/2024).
Dilanjutkan politisi Partai Golkar itu, potensi unggul sektor digital di Indonesia dapat dilihat dari jumlah kepemilikan ponsel di masyarakat hingga 353,3 juta, pengguna internet aktif sebanyak 185,3 juta di 2024, dan kepemilikan startup terbesar di ASEAN hingga 2.651 startup.
Baca juga : DKI Uji Coba Iuran Sampah, Anggota DPRD Tak Setuju
Selanjutnya sektor keuangan. Dipaparkan Airlangga, Indeks Inklusi Keuangan Indonesia tahun 2024 mencapai 75 persen. Angka ini mengisyaratkan bahwa sebagian besar masyarakat telah memanfaatkan teknologi digital, terutama terkait kebutuhan keuangan.
Berbagai potensi digital tersebut perlu dimanfaatkan dengan optimal, agar mendorong pertumbuhan ekonomi lebih solid.
Airlangga menyebutkan, peluang Indonesia untuk memasuki era digital sangat terbuka, karena ekonomi digital Indonesia 40 persen dari ASEAN.
“Pada kepemimpinan Indonesia di ASEAN juga telah diluncurkan Digital Economic Framework Agreement. Ini merupakan kesepakatan pertama bagi ekosistem digital di seluruh dunia,” ungkap Airlangga.
Baca juga : Misi Sang Serigala Jauhi Zona Merah
Lebih lanjut, mantan Menteri Perindustrian itu menjelaskan, sebagai proyek pertama, Indonesia bersama negara-negara ASEAN juga meluncurkan sistem pembayaran lintas negara di ASEAN dengan menggunakan teknologi QRCode atau Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
“Upaya tersebut akan memudahkan masyarakat yang akan bepergian ke negara-negara ASEAN, seperti Singapura, Vietnam, Malysia, dan Thailand, untuk dapat melakukan pembayaran transaksi secara elektronik,” sambung Airlangga.
Selanjutnya terkait dengan pengembangan startup di tengah era yang kian kompetitif saat ini, lanjut Airlangga, perlu pengembangan kemampuan dalam berinovasi dan memberikan alternatif terhadap bisnis yang dikembangkan.
Untuk itu, Pemerintah terus mengupayakan fasilitas pendidikan dan pelatihan, yang berkerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan. Seperti, Apple Academy yang telah dibuka di Tangerang, Batam, hingga Surabaya.
Baca juga : Ganda Putra Malaysia Pede Bisa Bawa Gelar
Apple Academy tersebut didirikan untuk memfasilitasi pelajar maupun generasi muda yang berminat untuk berwirausaha di bidang digital. Memberikan pelatihan selama satu tahun, agar mendorong generasi muda berkreasi menghasilkan program kerja.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.