Sebelumnya
Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Fadjar Djoko Santoso mengakui, impor dilakukan karena konsumsi BBM lebih besar dibandingkan produksi. Namun, pihaknya terus berupaya memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Kata Fadjar, produksi di hulu terus ditingkatkan. Kabar baiknya, dalam 10 tahun terakhir produksi minyak dan gas Pertamina meningkat sekitar 8 persen.
“Peningkatan ini akan terus dilakukan dengan penggunaan teknologi dan eksplorasi sumber atau lapangan baru,” ucapnya saat dihubungi, tadi malam.
Baca juga : “Luka Satu, Luka Kita Semua”
Selain itu, Pertamina berhasil mengembangkan biofuel. Kata Fadjar saat ini sudah ada B40. Bahkan sejak 2019, Pertamina sudah tak lagi impor solar dan avtur. Sehingga menghemat devisa dan memperbaiki neraca perdagangan.
Untuk mendukung swasembada energi yang ditargetkan Prabowo, Pertamina akan memaksimalkan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. “Pengembangan energi baru terbarukan/low carbon seperti geothermal/panas bumi, dan lainnya,” cetus Fadjar.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mendukung target yang dicanangkan Prabowo. Saat ini, dominasi energi fosil yang memasok Indonesia mencapai 85 persen.
Baca juga : Maman Imanul Haq: Melanggar Prinsip Pengelolaan Zakat
Nahasnya, ketergantungan energi fosil terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Fabby hal ini tidak aman. “Perlu langkah-langkah terencana dan terukur untuk bertahap mengurangi energi fosil,” ulasnya, tadi malam.
Kata Fabby, ada tiga strategi kunci untuk menghentikan impor BBM sebelum 5 tahun. Pertama, meningkatkan produksi minyak bumi sebesar 1,2 juta barel per hari.
Kedua, memangkas permintaan BBM domestik dengan mendorong kebijakan efisiensi energi pada kendaraan, perbaikan kualitas BBM ke Euro IV bahkan V, dan penggunaan bahan bakar nabati dari feedstock yang dikelola secara berkelanjutan dan bertanggung jawab lingkungan.
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Bukan Cuma Zakat, Manfaatkan Dana CSR
Ketiga, mengintegrasikan framework Avoid Shift Improve (ASI) untuk menurunkan konsumsi BBM. Di antaranya melalui peningkatan sarana transportasi publik dan elektrifikasi kendaraan, serta pembatasan usia kendaraan bermotor bakar (ICE).
Untuk menjalankan strategi ini, Presiden harus melibatkan Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, dan kementerian terkait lainnya.
“Saran saya, Presiden segera mengeluarkan Pepres khusus untuk mengimplementasikan ketiga strategi ini segera mungkin,” usul Fabby. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.