RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum BPP Hipmi, Akbar Himawan Buchari, menilai pemerintah telah bekerja maksimal hingga berhasil menurunkan tarif impor dari 34 persen menjadi 19 persen.
Akbar mengatakan, sejak April, Pemerintah telah berupaya maksimal agar tarif resiprokal yang dipatok Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak terlalu tinggi. Negosiasi pun dilakukan, sambil melancarkan upaya lain.
Menurut Akbar, hampir semua menteri terkait berjibaku dalam orkrestasi Presiden Prabowo Subianto. Misalnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto yang menjadi nakhoda negosiator dengan pihak Washington.
Baca juga : Nego Prabowo Bikin Tarif Trump Turun 19 Persen, Analis: Market Respons Positif
Namum, siapa sangka gebrakan dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bisa menyempurnakan puzzle kerja keras ini. Di hadapan DPR, Bahlil akan membatalkan rencana impor minyak dan gas dari Amerika jika tarif tidak turun.
"Saya baru berbincang dengan Bang Bahlil. Beliau bercerita, ternyata ancaman itu didengar pihak Amerika. Sehingga mereka melunak, dan menurunkan tarifnya jadi 19 persen," tutur Akbar dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (16/7/2025).
Memang jika dilihat angkanya, tarif ini masih relatif tinggi. Namun, jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Indonesia lebih kecil. Laos 40 persen, Thailand 36 persen, Malaysia 25 persen, dan Vietnam 20 persen.
Baca juga : Tarif Impor Ke AS Turun Jadi 19 Persen, Prof Hikmahanto Kasih Saran Ini
Kata Akbar, defisit perdagangan Amerika dengan Indonesia hanya 19 miliar dolar AS. Sementara, Airlangga telah paket senilai 34 miliar dolar AS bentuk pembelian komoditas dan investasi.
"Seharusnya, itu sudah membalikkan neraca perdagangan Amerika, yang sebelumnya defisit akan menjadi surplus," ungkap Akbar.
Dia berharap, tarif masih bisa diturunkan. Sebab, tarif yang tinggi akan menekan industri padat karya. Terlebih pada tekstil, alas kaki, dan perikanan yang cenderung bergantung pada pasar Amerika. Sebut ekspor pakaian ke Amerika, persentasenya tembus 60 persen, furniture 59 persen, produk olahan ikan 56 persen, dan alas kaki 33 persen.
Baca juga : Trump Tetapkan Tarif Impor Tembaga 50 Persen, Celios: Amerika Sendiri Yang Tekor
"Bila tarif tinggi tetap diberlakukan, risiko penurunan permintaan akan mengguncang kinerja ekspor dan kelangsungan usaha," kata Akbar.
Seperti kita ketahui, ketidakpastian global masih terjadi, begitu juga dengan indeks manufaktur (PMI). Data terbaru menunjukan PMI Manufaktur Indonesia turun ke 46,9 pada Juni 2025 dari 47,4 pada Mei 2025, hal ini menandakan kontraksi 3 bulan beruntun, melanjutkan kontraksi bulan April 2025 yang merupakan kontraksi paling tajam sejak Agustus 2021.
Selain itu, beban biaya produksi meningkat, mulai dari harga energi, bahan baku impor yang masih rentan fluktuasi nilai tukar, hingga kenaikan upah minimum yang belum diimbangi dengan perbaikan productivity gains. "Hal ini membuat pelaku usaha wait and see, dan lebih kepada efisiensi," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.