BREAKING NEWS
 

Mafia Pengoplos Beras Disikat, Pedagang Kecil Raih Untung

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : UJANG SUNDA
Kamis, 14 Agustus 2025 08:51 WIB
Masyarakat memberi belas di agen. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Terungkapnya kasus beras oplosan jadi berkah bagi pedagang kecil. Di saat banyak produsen beras menarik produknya dari ritel-ritel modern, masyarakat rame-rame mencari beras ke pasar-pasar dan warung-warung. Para pedagang kecil pun jadi untung.

Saat ini, para mafia pengoplos beras sedang disikat oleh aparat penegak hukum. Bareskrim Polri sudah menetapkan enam orang dari dua produsen beras besar (masing-masing tiga orang), sebagai tersangka. Barang bukti beras oplosan yang disita mencapai 58,9 ton.

Setelah kasus ini muncul, stok beras yang ditengarai hasil oplosan ditarik dari ritel-ritel modern oleh masing-masing produsen. Kemudian, mereka menggantinya dengan stok baru. Namun, jumlahnya tak sebanyak stok awal. Banyak minimarket dan supermarket mengalami kekurangan stok.

Hal ini membuat sebagian masyarakat beralih membeli beras ke pasar tradisional maupun para pengecer. Salah satunya terlihat di Pasar Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Rabu (13/8/2025), lapak-lapak beras di pasar tersebut ramai pembeli. Ada yang membeli eceran per liter. Ada juga yang beli per karung.

Suparno, salah satu penjual beras di Blok C Pasar Tambun bersyukur dengan ramainya pembeli ini. "Alhamdulillah (ramai pembeli). Sejak kasus itu (beras oplosan) pembeli di sini makin ramai," tuturnya, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.

Baca juga : Antar Undangan HUT RI, Gibran Cium Tangan Pak Try

Dia menerangkan, intensitas pembeli yang semakin meningkat dalam dua pekan terakhir. Banyak pembeli baru yang datang. Pembeli baru itu sebelumnya belanja beras di minimarket.

"Saya dengar dari pembeli, biasanya belanja beras di minimarket dekat rumah mereka. Tapi, belakangan ini barangnya kosong. Jadi mereka cari beras ke pasar," tutur Suparno.

Sejak kasus beras oplosan muncul, omzet harian Suparno naik hingga 40 persen. "Biasanya sehari paling laku 3 karung, sekarang bisa 4–5 karung,” tuturnya. Saking ramainya, berasnya sudah habis terjual sebelum pukul 2 siang.

Siti Maryam, pedagang beras lainnya di Pasar Tambun, merasakan peningkatan omzet yang sama. Hanya saja, kata dia, pembeli kini lebih teliti. Sebelum membeli, mereka sering mengambil sampel segenggam beras untuk cek kualitasnya dan dicium aromanya. Hal itu untuk memastikan bahwa beras yang dibeli bukan oplosan.

Adsense

"Mereka nggak mau beli kemasan yang nggak jelas isinya," tutur Siti

Baca juga : SBY Hadir, Mega-Jokowi Belum Berikan Kepastian

Dia merasa, saat ini masyarakat lebih percaya membeli beras yang dijual secara curah di pasar. "Kalau di minimarket kan cuma bisa lihat kemasannya. Di sini bisa dipegang, bisa dicoba,” imbuhnya.

Di Pasar Parung, Kabupaten Bogor, para pedagang beras juga merasakan cuan. Salah satunya kios beras milik Pian. Di kios ini, Pian menyediakan beras kualitas medium yang dibanderol antara Rp 10 ribu-Rp 12 ribu per kg. Masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dipatok Rp 12.500 per kg.

"Alhamdulillah, yang beli ada aja. Satu-satu datang (silih berganti)," tuturnya, kepada Rakyat Merdeka.

Sejak kasus beras oplosan muncul, kata Pian, omzetnya naik menjadi sekitar 60 karung per pekan. Untuk omzet hariannya, dia bisa mencapai Rp 3,5 juta-Rp 5 juta. Hanya saja, dia juga akan kesulitan untuk memenuhi stok. 

“Sekarang barang yang kita cari susah dapatnya. Dikirimnya beda," tuturnya.

Baca juga : Buntut Naikkan Pajak, Demonstran Desak Bupati Pati Dimakzulkan

Di ritel model, saat ini, beras memang agak langka. Salah satu Alfamart di Jakarta Selatan misalnya, tak punya stok beras. Rak tempat beras diganti dengan diisi minyak goreng.

Kata seorang kasirnya, kondisi ini telah terjadi sekitar dua pekan. Bukan hanya di tokonya, Alfamart sekitar juga merasakan hal yang sama. Sebab, stok berasnya ditarik kantor pusat.

Di Cileungsi, Kabupaten Bogor, juga demikian. "Ia (kosong). Ditarikin karena beras oplosan. Dari supplier-nya belum datang lagi. Sudah ada dua minggu kosong," ucap kasir di salah satu ritel modern di Cileungsi. 

Di Pamulang, Tangerang Selatan, juga demikian. Sejumlah ritel modern tak lagi menjual beras. Karena beras stok lama ditarik, sedangkan stok baru belum datang. BYU/UMM/MEN

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense