Sebelumnya
Namun, lanjut Paul, apakah bunga deposito yang menurun masih akan menarik bagi deposan.
Paul menilai, penurunan ini bisa saja turut menurunkan minat deposan, terutama yang mencari return optimal dengan risiko minimal.
Menurutnya, dalam kondisi suku bunga rendah, deposan mungkin mencari alternatif investasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Baca juga : Penerapan Ganjil Genap Bukan Solusi Yang Tepat
“Ada kemungkinan (mereka) berpindah ke instrumen investasi lain yang berisiko,” nilai Paul kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Sebut saja seperti obligasi Pemerintah (Surat Berharga Negara/SBN) yang menawarkan imbal hasil kompetitif dan memiliki risiko lebih rendah dibanding saham.
Dari sisi perbankan, mereka akan berhitung mengenai beban dana yang ideal, khususnya deposito. Bunga deposito yang besar akan berdampak pada bunga pinjaman yang diberikan perbankan.
Baca juga : Soal Aliran Uang Suap Proyek Jalur KA, Bupati Pati Digarap KPK 7 Jam
Namun, penurunan bunga pinjaman berisiko membuat kemampuan debitur dalam membayar cicilan meningkat.
Paul mengatakan, bagi deposan yang sangat mengutamakan keamanan dana (risk-averse), deposito tetap menjadi pilihan karena dijamin LPS hingga Rp 2 miliar per nasabah per bank.
“Jika inflasi lebih tinggi dari bunga deposito, daya beli deposito akan menurun, sehingga deposan lebih berhati-hati,” terangnya.
Baca juga : Alex Isak, Pemain Termahal Liga Inggris
Tak hanya itu, imbuh Paul, jika kondisi ekonomi stabil dan kepercayaan terhadap sistem perbankan tinggi.
“Maka deposan cenderung tetap menyimpan dana di deposito meskipun bunga turun, karena keamanan dananya terjamin,” pungkas Paul. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.