RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan ekonomi Indonesia tetap solid di tengah perlambatan global. Pertumbuhan 2026 ditargetkan 5,4 persen dengan potensi mencapai 5,6 persen, bahkan diarahkan menuju 8 persen sesuai visi Presiden.
Hal itu disampaikan Airlangga dalam Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi global saat ini stagnan di kisaran 3 persen. Bahkan pada 2026 diproyeksikan melemah di rentang 2,9–3,1 persen. Perdagangan dunia pun melambat hingga sekitar 2,4 persen.
“Namun Indonesia tetap menunjukkan kinerja kuat. Pada kuartal IV, kita menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi kedua di G20 setelah India,” ujarnya.
Baca juga : Prabowo Hadiri Indonesia Economic Outlook 2026, Bahas Arah Ekonomi Nasional
Secara tahunan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen. Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen, didorong stimulus ekonomi yang tepat sasaran, stabilitas harga, serta meningkatnya mobilitas masyarakat saat momentum hari besar keagamaan.
Investasi juga tumbuh 5,09 persen. Bahkan belanja modal pemerintah melonjak 44,2 persen. Ekspor naik 7,03 persen, sementara sektor pariwisata mencatat kenaikan kunjungan 10 persen sepanjang 2025. Perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan atau tumbuh 17,55 persen dibanding tahun sebelumnya.
Sektor pertanian tumbuh 5,03 persen, industri pengolahan 5,3 persen, serta transportasi dan akomodasi tumbuh di atas 3 persen.
Tak hanya itu, indikator sosial juga membaik. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, rasio gini membaik ke 0,36, dan pengangguran terbuka turun menjadi 4,74 persen. Tercatat 2,71 juta tenaga kerja terserap berkat realisasi investasi.
Baca juga : Indonesia Economic Summit 2026 Akselerasi Transformasi Ekonomi Nasional
Airlangga menegaskan, target pertumbuhan 2026 sebesar 5,4 persen akan ditopang sektor prioritas seperti pertanian, manufaktur, digital, dan energi. Program unggulan Presiden seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, serta pembangunan 3 juta rumah diharapkan menjadi motor pertumbuhan baru.
Dari sisi pembiayaan, sektor keuangan berperan strategis. Reformasi pasar modal dilakukan dengan meningkatkan porsi saham beredar di publik dari 7,5 persen menjadi 15 persen agar likuiditas meningkat. Batas investasi dana pensiun dan asuransi juga dinaikkan dari 10 persen menjadi 20 persen, khususnya pada saham berkualitas seperti indeks LQ45.
Di bidang diplomasi ekonomi, pemerintah terus membuka akses pasar global melalui berbagai perjanjian dagang, termasuk IEU-CEPA, kerja sama dengan Kanada, Eurasia, Inggris, hingga Amerika Serikat yang segera ditandatangani.
“Untuk mencapai target 8 persen, reformasi struktural harus terus kita lakukan. Mesin pertumbuhan, belanja pemerintah, investasi, dan sektor keuangan, harus bergerak harmonis,” tegasnya.
Baca juga : Road to JFSS 2026, Menko Airlangga Tekankan Ketahanan Pangan Nasional
Ia optimistis, dengan birokrasi yang makin sederhana, kebijakan yang terprediksi, serta penegakan hukum yang konsisten, Indonesia siap benar-benar lepas landas.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.