Sebelumnya
Harga BBM di Indonesia terpantau masih sama di tengah konflik Timur Tengah, yang memicu kenaikan harga minyak mentah melampaui 100 dolar AS per barel.
Harga BBM Subsidi Solar masih di Rp 6.800 per liter, dan Pertalite Rp 10.000 per liter.
Harga BBM non subsidi Pertamax Series dan Pertamina Dex, di situs resmi Pertamina, tidak mengalami perubahan sejak awal Maret 2026. Di Jakarta, harga per liter Pertalite tercatat Rp 10.000, Pertamax Rp 12.300, Pertamax Green 95 Rp 12.900, Pertamax Turbo Rp 13.100.
Stabilitas harga ini merupakan wujud nyata upaya Pemerintah Indonesia, dalam meredam dampak inflasi global terhadap daya beli domestik.
Baca juga : Perkuat Stok Pangan, Serap Produksi Lokal
Negara tetangga Malaysia juga tidak menaikkan harga bahan bakar subsidi RON95. Harganya masih 1,99 ringgit per liter. Namun untuk RON95 non subsidi, harganya naik 60 sen menjadi 3,87 ringgit. RON97 naik 60 sen menjadi 5,15 ringgit. Sementara harga diesel di Semenanjung Malaysia naik 80 sen menjadi 5,52 ringgit. Namun diesel di Sabah, Sarawak, dan Labuan tetap 2,15 ringgit.
Pemerintah Thailand melalui Komite Manajemen Dana Bahan Bakar Minyak menyetujui kenaikan harga ritel sebesar 6 baht per liter yang berlaku mulai Kamis 26 Maret 2026. Langkah ini diambil karena dana subsidi (oil fuel fund) Thailand mengalami defisit parah, akibat lonjakan harga minyak dunia pasca konflik di Timur Tengah.
Di Filipina yang telah menetapkan status darurat energi nasional, harga diesel per 24 Maret 2026 telah melampaui 120 peso per liter. Hampir dua kali lipat dari harga sebelum perang.
Di Singapura yang harga bensinnya tidak dikontrol pemerintah dan berfluktuasi harian mengikuti pasar global, RON95 dibandrol dengan harga 3,45 hingga 3,47 dolar Singapura atau setara Rp 58.300 hingga Rp 58.500.
Baca juga : Hindari Macet, Asyik Juga WFA Sambil Berwisata Ria
Sementara Vietnam mencatat kenaikan harga bensin oktan 95 hingga hampir 50 persen dalam dua minggu terakhir, akibat gangguan pasokan global.
WFH Sehari Sepekan
Indonesia telah mengumumkan kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan demi menekan konsumsi BBM, di samping mengkampanyekan program hemat energi. Institute for Essential Services Reform (IESR) sependapat dengan langkah ini.
CEO IESR Fabby Tumiwa mengatakan, fleksibilitas kerja tersebut bisa mengurangi mobilitas harian masyarakat, terutama di wilayah perkotaan. “WFH satu hari per minggu bisa membantu menahan permintaan BBM,” ujar Fabby dalam keterangannya, Kamis (26/3/2026).
Fabby menilai, kebijakan WFH perlu menjadi bagian dari upaya pengelolaan energi yang lebih luas. Dalam jangka pendek, IESR mendorong penghematan energi di instansi pemerintah dan swasta, serta pengawasan distribusi BBM.
Baca juga : Susah Cari Pengganti Salah
Untuk jangka menengah, pemerintah diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor dan mendorong diversifikasi energi. Sementara dalam jangka panjang, pengembangan energi terbarukan dan efisiensi energi dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Langkah-langkah tersebut dapat saling melengkapi dalam menjaga stabilitas energi di tengah dinamika global,” pungkas Fabby. [HES/BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.