RM.id Rakyat Merdeka - Kenaikan harga tiket pesawat domestik diperkirakan akan menekan jumlah penumpang dalam waktu dekat, seiring lonjakan biaya operasional maskapai akibat kenaikan harga bahan bakar avtur di tengah konflik Timur Tengah.
Pemerintah sebelumnya mengizinkan maskapai menaikkan tarif tiket pesawat sebesar 9–13 persen. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap kenaikan harga avtur domestik yang terdampak krisis minyak global.
Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia, Revy Petragradia menilai, komponen biaya tambahan seperti admin fee dan distribusi tiket tidak memberikan dampak signifikan terhadap harga akhir yang dibayar penumpang.
“Admin fee mungkin sedikit mempengaruhi, tapi tidak signifikan. Maskapai akan lebih banyak mengatur base fare atau harga dasar,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).
Baca juga : Negosiasi Nuklir AS–Iran Di Pakistan Buntu, Ini Penyebabnya
Menurut Revy, faktor utama yang mendorong kenaikan harga tiket adalah lonjakan harga avtur yang kontribusinya bisa mencapai sekitar 40 persen dari total biaya. Harga avtur disebut naik dari Rp 13.656 menjadi Rp 23.551 per liter.
Sebagai respons, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan insentif untuk menahan kenaikan tarif. Di antaranya penetapan fuel surcharge hingga 38 persen, pemberlakuan pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) sebesar 11 persen, serta penghapusan bea masuk suku cadang pesawat menjadi nol persen.
Revy menjelaskan, dalam struktur tarif tiket pesawat terdapat empat komponen utama yang memengaruhi harga, yakni fuel surcharge, base fare, pajak pertambahan nilai (PPN), serta biaya operasional seperti airport tax.
Seiring kenaikan harga tiket, ia memproyeksikan jumlah penumpang pesawat berpotensi turun sekitar 10–15 persen, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih belum stabil.
Baca juga : Perusahaan Jepang Ini Dorong Pertanian Rendah Emisi di Indonesia
“Dengan kenaikan 9–13 persen, proyeksi penumpang pasti tertekan 10–15 persen, apalagi kondisi ekonomi saat ini belum menentu,” katanya.
Ia menambahkan, segmen perjalanan bisnis juga berpotensi terdampak, terutama akibat pembatasan perjalanan dinas oleh pemerintah. Sementara pada periode libur panjang, masyarakat diperkirakan tetap melakukan perjalanan, tapi cenderung memilih destinasi jarak dekat guna menekan pengeluaran.
Dalam jangka menengah, tantangan utama maskapai adalah menjaga efisiensi dan mengoptimalkan operasional di tengah tekanan biaya serta ketidakpastian global.
Revy menyarankan maskapai untuk mengembangkan strategi bisnis yang lebih adaptif, termasuk mengintegrasikan layanan penerbangan dengan sektor pariwisata melalui paket perjalanan.
Baca juga : Jaksa Agung Bakal Kembangkan Kasus Tambang ke Sektor Emas
“Tidak hanya menjual tiket, tetapi juga menggabungkan dengan layanan hotel dan wisata dalam bentuk paket perjalanan agar lebih menarik dan efektif,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.