BREAKING NEWS
 

PMI Manufaktur April Turun Ke 49,1 Akibat Tekanan Global

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Senin, 4 Mei 2026 20:48 WIB
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan kinerja sektor manufaktur Indonesia pada April 2026 mengalami perlambatan di tengah dinamika geopolitik global yang masih berlangsung.

Hal tersebut tercermin dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang turun ke level 49,1 dari 50,1 pada Maret 2026, sekaligus kembali memasuki fase kontraksi.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, pelemahan PMI dipengaruhi gangguan rantai pasok global serta kenaikan harga komoditas dan biaya logistik.

“Pelemahan angka PMI tersebut merupakan dampak dari dinamika global, khususnya konflik geopolitik yang memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga komoditas serta biaya logistik,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Baca juga : Data Tunjukkan Ekonomi Indonesia Tetap Solid Di Tengah Tekanan Global

Merespons kondisi tersebut, Kemenperin melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan industri nasional, antara lain mempertemukan ekosistem rantai pasok industri terdampak seperti sektor plastik guna memastikan ketersediaan bahan baku.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing serta meminimalkan risiko fluktuasi nilai tukar.

Adsense

Kemenperin juga tengah mempercepat perumusan kebijakan strategis, termasuk penguatan substitusi impor, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), serta diversifikasi sumber bahan baku dan pasar ekspor.

Upaya tersebut diiringi dengan berbagai program fasilitasi bagi pelaku industri, seperti pendampingan, peningkatan kapasitas industri kecil dan menengah (IKM), serta akselerasi transformasi digital guna meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Baca juga : Industri Manufaktur Tahan Tekanan Global, IKI April 2026 Tetap Ekspansi

“Seluruh upaya ini bertujuan menjaga ketahanan dan kemandirian industri nasional serta mempertahankan utilisasi produksi, sehingga dapat melindungi pekerja dari risiko pemutusan hubungan kerja,” kata Febri.

Lebih lanjut, Kemenperin juga tengah menyiapkan usulan insentif baru serta kebijakan perlindungan industri dalam menghadapi dampak gejolak geopolitik global. Sementara itu, berdasarkan data S&P Global, tekanan terhadap sektor manufaktur juga dialami negara-negara Asia Tenggara lainnya, meskipun dengan tingkat yang berbeda.

Vietnam masih mencatatkan PMI di kisaran 50,5, sementara Malaysia berada di level 51,6. Adapun Indonesia dengan PMI 49,1 tergolong dalam fase kontraksi moderat, sejalan dengan tren pelemahan di kawasan.

Meski demikian, kondisi Indonesia dinilai relatif lebih baik dibandingkan negara dengan kontraksi lebih dalam seperti Filipina yang mencatatkan PMI 48,3, didukung oleh permintaan domestik yang masih terjaga.

Baca juga : APINDO Beberkan Bottleneck Hilirisasi Di Tengah Tekanan Geopolitik Global

Di sisi lain, survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menunjukkan pelaku industri masih optimistis terhadap prospek produksi dalam enam bulan ke depan, dengan tingkat optimisme mencapai 70,1 persen, meskipun turun tipis 1,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense