BREAKING NEWS
 

Prof Didik Dorong Ekspor Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi RI, Ini Alasannya

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Minggu, 9 Agustus 2026 15:30 WIB
Prof Didik J. Rachbini. (Foto: Universitas Paramadina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Prof Didik J. Rachbini menilai, ekspor harus menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi dari kisaran lima persen.

Menurut Didik, sektor luar negeri selama ini belum ditempatkan sebagai mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung moderat.

“Masalahnya adalah sektor luar negeri belum dijadikan mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi,” kata Didik dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (9/8/2026).

Ia menilai, kebijakan ekonomi Indonesia selama ini masih relatif terlalu berorientasi pada pasar domestik, substitusi impor, penguasaan sumber daya, dan konsumsi dalam negeri.

Menurut dia, orientasi tersebut perlu diubah menjadi kebijakan yang mampu menembus pasar internasional melalui peningkatan daya saing industri, orientasi ekspor, serta pemanfaatan investasi dan rantai pasok global.

Baca juga : BI DKI Dorong Ekonomi Kreatif Jadi Sumber Pertumbuhan Baru Jakarta

Didik mengatakan, Indonesia memang memiliki pasar domestik yang besar karena jumlah penduduk yang tinggi, namun pasar dalam negeri saja tidak cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia.

“Pasar domestik memang penting, tetapi pasar domestik saja tidak cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia,” ujarnya.

Karena itu, dia mendorong Pemerintah mengubah orientasi kebijakan ekonomi dari inward looking menjadi outward looking dengan menjadikan ekspor sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan.

Menurut Didik, perubahan orientasi tersebut dapat mendorong masuknya investasi asing sekaligus memperkuat investasi domestik karena terdapat kepastian insentif, dukungan infrastruktur, serta birokrasi yang lebih ramah dan efisien.

Adsense

Masuknya investasi dan berkembangnya industri berorientasi ekspor, lanjutnya, juga dapat memperkuat industri berbasis sumber daya nasional (resource based industry) sekaligus mendorong Indonesia masuk lebih jauh ke dalam rantai pasok global.

Baca juga : Pariwisata Dan Investasi Mesin Utama Ekonomi

Didik mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki pengalaman menerapkan strategi ekonomi berorientasi ekspor yang dapat menjadi pembelajaran untuk kebijakan saat ini.

Ia merujuk pada strategi outward looking pada era 1980-an ketika Pemerintah mendorong investasi dan pengembangan industri berorientasi ekspor yang menurutnya mampu menopang pertumbuhan ekonomi sekitar 7-8 persen selama dua dekade.

“Jadi pemerintah cukup mengulangi kebijakan yang pernah berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tiga dekade lalu,” katanya.

Didik menilai, upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi tidak dapat terus mengandalkan belanja Pemerintah karena stimulus fiskal hanya berfungsi sebagai penyangga dalam jangka pendek.

Menurut dia, belanja Pemerintah lebih berperan menjaga pertumbuhan agar tidak jatuh di bawah lima persen, sementara kondisi fiskal dari sisi penerimaan maupun pengeluaran membuat strategi tersebut sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Baca juga : Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Dunia Usaha Soroti Ketahanan Rantai Pasok

Di sisi lain, konsumsi masyarakat juga dinilai tidak dapat sepenuhnya diandalkan sebagai sumber pertumbuhan karena jumlah kelas menengah yang tergerus turut membatasi penguatan konsumsi domestik.

“Pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih tinggi dari yang dicapai sekarang jika faktor ekspor belum menjadi growth engine yang cukup kuat untuk mendorong transformasi industri,” ujarnya.

Didik menegaskan, perubahan orientasi kebijakan ekonomi menjadi outward looking diperlukan apabila Indonesia ingin mengejar pertumbuhan ekonomi 7-8 persen seperti yang dicapai sejumlah negara di kawasan, termasuk Vietnam.

Menurut dia, tanpa perubahan kebijakan tersebut dan dengan hanya mengandalkan sumber daya serta pasar domestik, Indonesia harus bersiap menerima pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di kisaran lima persen atau bahkan lebih rendah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense