BREAKING NEWS
 

Konflik Timteng Tak Kunjung Usai, Ketahanan Energi RI Tetap Terjaga

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Senin, 10 Agustus 2026 06:40 WIB
Lanskap fasilitas produksi minyak dan gas bumi milik Pertamina Internasional EP (PIEP) di Lapangan Menzel Lejmat Nord (MLN), Aljazair. (Foto: Dok. Pertamina)

 Sebelumnya 
 

Bring Barrel Home 

Pertamina juga menjalankan program Bring Barrel Home atau membawa pulang minyak mentah hasil produksi dari aset migas di luar negeri, untuk diolah di kilang domestik. Sehingga, dapat mengurangi ketergantungan terhadap pembelian minyak mentah dari pihak lain. 

Terbaru, PT Pertamina Internasional EP (PIEP) mengirim sekitar 450 ribu barel minyak mentah dari Lapangan Menzel Lejmat di Aljazair menuju Kilang Cilacap, Jawa Tengah. 

Selain itu, Pertamina juga mengembangkan aset hulu migas di sejumlah negara seperti Aljazair, Malaysia, Irak, Nigeria, Gabon, dan Tanzania. 

Tanggapan DEN 

Baca juga : “Hi, Friends” Gaya Baru PM Modi Merayu Gen Z

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengapresiasi langkah Pertamina memperluas sumber impor energi hingga ke AS dan Afrika. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian penting dalam menghadapi risiko konflik Timur Tengah. Terutama, jika Selat Hormuz masih belum aman dilalui. 

Satya mencatat, pada semester pertama 2026, Nigeria menjadi pemasok minyak mentah terbesar Indonesia dengan pangsa 24,91 persen, disusul Angola 15,41 persen. 

Energy security kita prioritaskan di atas segalanya,” tegas Satya kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (8/8/2026). 

Satya berpendapat, Indonesia perlu memperluas pasokan dari negara-negara yang jalur pelayarannya tidak melalui Selat Hormuz, untuk mengurangi kerentanan terhadap gangguan di kawasan tersebut. Misalnya, Nigeria, Angola, Aljazair, dan Venezuela. 

Baca juga : Pengawasan Laut Timur Indonesia Dimodernisasi

Saat ini, pemerintah juga telah mengamankan kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok alternatif. Sehingga, pasokan energi tetap terjaga meski terjadi gejolak di Timur Tengah. 

Di sisi lain, peningkatan produksi domestik dan pengurangan impor harus berjalan paralel. Terkait hal tersebut, DEN mendorong eksplorasi sekitar 120 potensi sumur baru yang saat ini dalam tahap tender. 

Penggunaan teknologi seperti fracking, enhanced oil recovery (EOR), dan horizontal drilling juga perlu dimaksimalkan untuk meningkatkan produksi dari lapangan eksisting. “Termasuk menghidupkan kembali plan of development (PoD) yang selama ini mangkrak,” cetus Satya. 

Jika konflik berlangsung lebih lama dan harga minyak dunia kembali melonjak, Satya menyebut pemerintah perlu menyiapkan sejumlah langkah strategis. Pertama, mempercepat pembangunan cadangan penyangga energi atau strategic petroleum reserve (SPR) untuk mengantisipasi gangguan pasokan global. 

Baca juga : Hidran Hilang, Nyawa Warga Dipertaruhkan

Kedua, mempercepat transisi energi melalui pengembangan bahan bakar nabati. Program B50 diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Ketiga, memperkuat diplomasi energi melalui kerja sama bilateral atau multilateral. 

Keempat, mendorong efisiensi konsumsi energi. Langkah ini telah dilakukan pemerintah, antara lain melalui kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) setiap Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). 

“Dengan diversifikasi sumber impor, peningkatan lifting minyak domestik, optimalisasi kilang, penguatan cadangan strategis, serta efisiensi konsumsi, Indonesia diharapkan mampu menjaga ketahanan energi meski konflik Timur Tengah berlangsung panjang,” pungkas Satya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense