BREAKING NEWS
 

INDEF Sebut Guncangan Harga Minyak Bisa Tekan Pertumbuhan Ekonomi

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Jumat, 23 Oktober 2026 11:11 WIB
Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eisha M. Rachbini. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eisha M. Rachbini menilai, tekanan geopolitik global dan kenaikan harga minyak berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia, memperbesar beban subsidi energi, serta menekan daya beli masyarakat.

Eisha mengatakan, guncangan eksternal memengaruhi perekonomian nasional melalui tiga jalur utama, yakni sektor energi dan fiskal, rantai pasok global, serta investasi dan pasar keuangan.

“Ekonomi Indonesia tidak bisa dikatakan baik-baik saja,” kata Eisha dalam pemaparannya mengenai kajian INDEF bertajuk Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim, dikutip Jumat (23/10/2026).

Menurut dia, kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok dapat meningkatkan biaya produksi, mempersempit ruang fiskal pemerintah, serta menghambat investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Baca juga : Harga Minyak Brent Tembus 114 Dolar AS per Barel, WTI Capai 100 Dolar

Dari sisi energi dan fiskal, eskalasi geopolitik berisiko meningkatkan harga minyak dan biaya input produksi, sekaligus memperbesar beban subsidi pemerintah. Kondisi tersebut dapat memicu tekanan inflasi dan risiko kredit di tengah keterbatasan ruang fiskal serta meningkatnya kebutuhan belanja pemerintah.

Sementara itu, gangguan rantai pasok global berpotensi meningkatkan kebutuhan modal kerja dan menekan pembiayaan perdagangan (trade finance). Situasi tersebut dapat menghambat kegiatan produksi dan investasi, yang pada akhirnya memengaruhi penciptaan lapangan kerja dalam beberapa tahun mendatang.

Pada jalur ketiga, gejolak pasar keuangan global, terutama kenaikan imbal hasil dan pergeseran portofolio investor ke aset yang dinilai lebih aman, berisiko menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

Adsense

Tekanan tersebut dapat meningkatkan biaya dana (cost of fund) dan membuat lembaga keuangan lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Akibatnya, akses pembiayaan bagi dunia usaha berpotensi semakin terbatas di tengah ketidakpastian global.

Baca juga : Investasi KEK Rp 382,1 Triliun Serap 302 Ribu Tenaga Kerja

Eisha menambahkan, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) membuat perekonomian domestik rentan terhadap lonjakan harga energi dan ketidakpastian pasokan global.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperburuk defisit neraca perdagangan migas dan menekan nilai tukar rupiah. Pada saat bersamaan, peningkatan biaya logistik, produksi, dan distribusi dapat menggerus daya beli masyarakat serta menambah beban subsidi energi.

Dalam Kajian Tengah Tahun 2026, INDEF menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE) untuk mengukur dampak berbagai risiko global terhadap perekonomian nasional.

Hasil simulasi menunjukkan skenario lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 0,21 persen. Ekspor diperkirakan turun 2,44 persen dan upah riil melemah 0,28 persen.

Baca juga : Luhut: Kerugian Negara Tetap Wajib Dipertanggungjawabkan dalam UU Tipikor

Di sisi lain, inflasi berpotensi meningkat 0,28 persen, sedangkan impor diperkirakan melonjak 7,8 persen. Kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan dan meningkatkan kebutuhan pembiayaan impor energi.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi, Eisha menilai pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan beban subsidi energi dan memperkuat ketahanan pasokan. Diversifikasi sumber energi dan percepatan pengembangan energi domestik juga menjadi bagian penting untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak eksternal.

Pengembangan energi rendah karbon, seperti bahan bakar nabati, panas bumi, energi surya, hidrogen hijau, dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF), dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain itu, reformasi subsidi secara bertahap dan penguatan stabilitas makroekonomi diperlukan agar pemerintah memiliki ruang fiskal yang memadai untuk menghadapi tekanan global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense