BREAKING NEWS
 

Punya Bisnis Inti Berbeda Merger

BUMN Pariwisata Dan Aviasi Ciptakan Masalah Baru

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : MUHAMAD FIKY
Jumat, 7 Agustus 2020 08:36 WIB
Ilustrasi penerbangan Aviasi susah mendapatkan penumpang saat Pandemi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Wacana pemerintah menggabungkan (merger) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang penerbangan (aviasi) dengan pariwisata perlu dipertimbangkan. Dinilai berpotensi menimbulkan masalah baru.

Pengamat penerbangan dari Arista Indonesia Aviation Center (AIAC), Arista Atmadjati mengakui, kondisi pandemi memang mendorong banyak pihak untuk inovatif membuat terobosan. 

Namun menurutnya, terobosan jangan sampai menciptakan masalah baru. Kalau yang digabungkan hanya BUMN aviasi saja tidak masalah. 

“Malah bagus kalau holding itu dilakukan hanya untuk BUMN aviasi saja. Tapi kalau aviasi dan pariwisata berada dalam satu payung, ini saya kira akan susah. Karena kedua bidang ini memiliki misi yang berbedabeda,” kata Arista kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Dia menjelaskan, dalam kondisi seperti sekarang BUMN aviasi susah mendapatkan penumpang. Alhasil, maskapai BUMN sekarang lebih banyak mengangkut logistik ketimbang penumpang. 

Baca juga : Peneliti CIPS : Pajak Digital Ciptakan Rasa Keadilan

Kondisi akan bertambah runyam jika aviasi harus bertanggung jawab juga pula terhadap pariwisata. 

Arista juga mengambil contoh, keinginan Kementerian Pariwisata yang sejak lama agar maskapai Garuda membuka penerbangan dari Moskow ke Bali, tapi maskapai tidak mau. 

“Mereka tidak mau karena prospek pasarnya tidak besar. Nah kalau ada penggabungan, maka nanti berpotensi akan ada tumpang-tindih kepentingan di dalamnya,” jelasnya. 

Jika terjadi adu kuat antara aviasi dan pariwisata, bisa jadi pariwisata yang menang. Mengapa? Karena pariwisata langsung berada di bawah Kementerian Pariwisata. 

Adsense

Tapi kalau aviasi, terutama untuk maskapai, itu tidak ada induk secara langsung. Aviasi memang ada perannya Kementerian Perhubungan, tapi itu hanya mengatur teknis seperti regulasi dan lain sebagainya. 

Baca juga : Pacu Bisnis Di Era New Normal, BNI Manfaatkan Big Data

Karena itu, Arista berharap tidak ada penggabungan aviasi dengan pariwisata. Masalah baru akan banyak bermunculan karena berbeda core business. Apalagi sudah bisa dipastikan, sambung Arista, penerbangan hanya akan memperhatikan aspek komersial. 

“Sementara sektor pariwisata, mungkin dia tidak memahami kondisi teknis maskapai yang harus bagaimana untuk mengangkut penumpang, harga dan sebagainya,” ucapnya. 

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyebutkan, Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua berada di angka minus 5,32 persen. 

Dan Jokowi melihat sektor yang terkonstraksi sangat dalam adalah sektor pariwisata dan sektor penerbangan. 

“Ini momentum kita untuk membuat terobosan. Mungkin saja nanti akan ada penggabungan BUMN penerbangan dan pariwisata, sehingga arahnya menjadi semakin kelihatan,” kata Jokowi saat membuka rapat terbatas Penggabungan BUMN aviasi dan pariwisata, secara virtual, kemarin. 

Baca juga : Mandiri Syariah Fokus Bisnis Retail dan Transaksi Digital komersial

Jokowi ingin ada lompatan di sektor pariwisata yang disebutnya memerlukan dukungan manajemen terintegrasi. Kepala Negara menekankan, pentingnya dukungan dari dunia aviasi atau penerbangan yang betul-betul harus didesain dengan manajemen yang lebih terintegrasi. 

“Agar terjadi sebuah lompatan di sektor pariwisata juga pengelolaan ekosistem pariwisata dan pendukungnya,” kata Presiden. 

Menurut dia, penerbangan harus lebih terkonsolidasi dari hulu sampai hilir. Cara ini dilakukan sebagai upaya menaikkan pertumbuhan perekonomian nasional. 

“Ini yang tidak pernah dilakukan, mulai dari manajemen airlines, manajemen bandaranya, manajemen pelayanan penerbangannya,” kata Presiden. 

Ia menginginkan agar hal itu tersambung dengan manajemen destinasi, termasuk juga tersambung dengan manajemen hotel dan perjalanan. “Dan bahkan sampai kepada manajemen produk-produk lokal dan industri kreatif yang kita miliki,” katanya. [JAR]
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense