BREAKING NEWS
 

Tenang, Negosiasi Investasi Masih Dibicarakan

Hadapi Tesla, Luhut Sabar

Reporter : KINTAN PANDU JATI
Editor : FITRIYANA YULIANTI
Jumat, 26 Februari 2021 05:25 WIB
Menteri Koordinator Bi­dang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto : Istimewa).

 Sebelumnya 
Biaya Investasi Di India Murah

Sementara, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Tauhid mengatakan, biaya investasi yang akan dikeluarkan Tesla di India jauh lebih murah dibandingkan Indonesia.

Itulah alasan Indonesia gagal dipilih Tesla. Menurutnya, ada dua hal mengapa Tesla akhirnya lebih memilih India. Pertama, soal pajak.

Baca juga : Kalangan Akademisi Masih Perdebatkan Soal Plagiarisme

“Di Indonesia walaupun ada keringanan pajak kendaraan listrik, namun buat Tesla iklim pajak di India jauh lebih baik dibandingkan Indonesia,” ujar Tauhid.

Kedua, tenaga kerja. Menu­rut Tauhid, industri kendaraan listrik di India telah jauh lebih berkembang dibandingkan di Indonesia. Tenaga kerja di India memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan di Indonesia yang baru memulai pengembangan industri kendaraan listrik.

Kemudian, investasi yang dikeluarkan Tesla di Indonesia akan jauh lebih mahal dibandingkan di India.

Baca juga : Menang Pamor, Prestasi The Doctor Diramal Tetap Kendor

Terkait SDM (Sumber Daya Manusia), menurut dia, memang butuh waktu panjang untuk pengembangannya. Sebab itu, Pe­merintah mesti menciptakan iklim yang mendukung investasi, pajak yang lebih murah, misalnya.

“Karena ini bukan cuma jadi kendala Tesla, sejumlah peru­sahaan asal Jepang juga sering mengeluhkan ini,” sebut Tauhid.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengata­kan, selain Tesla masih banyak rencana investasi asing yang berminat masuk ke Indonesia, namun ragu.

Baca juga : Tekan Covid, Kiai Munif Dukung Gerakan Jateng Di Rumah Saja

Yusuf menyarankan, Pemerintah perlu mempertimbangkan pemberian insentif berdasarkan kebutuhan industri yang akan dibidik oleh investor.

“Tentu ini membutuhkan usaha yang lebih besar untuk menghitung kebutuhan insentif tiap sektor, dan berapa lama im­bal hasil masing-masing sektor,” kata Yusuf. [KPJ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense