RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah polemik rencana impor beras 1 juta ton dari Thailand dan Vietnam, Direktur Utama Bulog Budi Waseso justru berambisi melakukan ekspor. Kata dia, Arab Saudi menyatakan tertarik dengan beras Indonesia. Ambisi tersebut membuat nama pria yang akrab disapa Buwas ini menjadi harum.
"Saya punya keyakinan bahwa kita bisa ekspor. Karena permintaan banyak untuk ekspor ke beberapa negara," ungkapnya dalam konferensi pers secara virtual, kemarin.
Pernyataan Buwas ini tidak asbun alias asal bunyi. Pada 2020, Bulog sudah menjajaki kesepakatan ekspor beras ke Arab Saudi. Dalam kontrak kerja sama tersebut, Bulog bakal mengirim 100 ribu ton beras setiap bulan.
Baca juga : Sandi: Kualitas SDM Dongkrak Destinasi Wisata
Sayangnya, ekspor tersebut belum terealisasi. Salah satu kendalanya, karena pandemi Covid-19. Banyak negara menerapkan lockdown dan membatasi pengiriman barang, termasuk Arab Saudi.
Meski begitu, bukan berarti kerja sama yang sudah dibangun kandas. Mantan Kabareskrim ini menyebut, anak buah Raja Salman sudah ngebet mengimpor beras dari Indonesia. "Sekarang dari Arab Saudi sudah minta kembali untuk bagaimana kita bisa memenuhi permintaan mereka. Ini akan saya jajaki," imbuh purnawirawan Jenderal Polisi bintang 3 ini.
Hanya saja, sejauh ini, Buwas belum memastikan kuota ekspor beras ke Arab akan sama dengan perjanjian tahun lalu atau tidak. Dia hanya menegaskan, stok beras dalam negeri cukup. Proyeksinya, stok akan mencapai 1,4 juta ton pada Juni 2022, usai panen raya petani.
Baca juga : Netanyahu Ngaku Arab Saudi Mau Baikan Sama Israel
Buwas yakin, Indonesia sebenarnya sangat mampu memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Sebagai negara agraris, Indonesia juga bisa melakukan ekspor ke sejumlah negara. Tentu dengan syarat pemerintah bisa mendorong petani memproduksi beras berkualitas.
Keinginan Buwas ini sejalan dengan data Kementerian Pertanian (Kementan). Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri menyebut, ekspor beras bukan sesuatu yang mustahil. Syaratnya, jaminan harga yang cukup baik di pasar internasional.
Kuntoro menerangkan, sejumlah negara sudah melirik beras premium petani Indonesia. Sejak 2017, Indonesia melakukan ekspor 2.100 ton beras ke 5 negara. Yakni, Belanda, Amerika Serikat, Malaysia, Belgia, dan Bangladesh. Pada 2018, ekspor beras menyentuh angka 1.400 ton ke 14 negara, termasuk di dalamnya Jepang, Vietnam, dan China. “Permintaan beras kita di luar negeri cukup besar," ucapnya, kemarin.
Baca juga : Lutfi Tampil Ksatria
Beras dalam kategori premium ini juga masih terbuka permintaannya. Selera pasar terhadap kebutuhan beras organik dan horeka di luar negeri dari beras lokal Asia cukup bagus. Contohnya, pada 2019, volume ekspor beras mencapai 230,2 ton, dan tahun 2020 naik menjadi 341,1 ton.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.