BREAKING NEWS
 

Mau Ekspor Beras Ke Arab Saudi

Buwas Harum Namanya

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 30 Maret 2021 07:33 WIB
Direktur Utama Bulog Budi Waseso (kanan) saat mendampingi Presiden Jokowi mengecek beras di Gudang Bulog, sebelum pandemi terjadi. (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
"Volumenya memang agak menurun. Apalagi 2020 ada hambatan pandemi Covid-19. Namun jumlah negara tujuan ekspor bertambah hingga 20 negara di dunia. Ini peluang yang harus ditangkap," terang Kuntoro.

Iya yakin, potensi wilayah pertanian dan kemampuan produksi tidak menjadi soal. Pasalnya, Indonesia masih punya cukup lahan. Tinggal dikelola dan dipenuhi kebutuhan benih khusus dan perlakuannya.

"Kami yakin peluang ekspor beras ke pasar internasional ini akan terus terbuka dan kita mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional. Mentan (Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo) sudah memberi arahan khusus terkait peningkatan nilai tambah dan ekspor produk pertanian kita. Tinggal kita maksimalnya potensinya," tutur Kuntoro.

Baca juga : Sandi: Kualitas SDM Dongkrak Destinasi Wisata

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengamini pernyataan Buwas dan Kuntoro itu. Menurutnya, surplus beras bisa tercapai di tengah panen raya dan upaya Bulog menyerap gabah petani. Surplus ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk menembus pasar dunia.

Bhima mencatat, harga beras internasional mengalami kenaikan sejak akhir 2020, untuk acuan harga beras Vietnam dan Thailand. "Ini kesempatan untuk ekspor, bukan malah impor," ulasnya, saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Dia memperkirakan, potensi produksi padi pada periode Januari-April 2021 mencapai 25,37 juta ton gabah kering giling. Naik 5,37 juta ton atau 26,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 19,99 juta ton gabah kering giling.

Baca juga : Netanyahu Ngaku Arab Saudi Mau Baikan Sama Israel

Artinya, produksi tahun ini lebih baik ketimbang tahun lalu. Sementara, konsumsi cenderung melemah. Hal itu tercermin dari inflasi inti yang masih rendah. Itulah mengapa Buwas pede bisa ekspor beras.

"Karena data dari BPS memang mengindikasikan kemungkinan kenaikan produksi, sehingga tidak butuh impor. Justru, peluang ekspor saat ini cukup besar. Kalau berasnya surplus kemudian bisa diekspor kan akan bawa devisa. Yang untung petani, juga sekaligus rupiah menguat," papar Bhima.

Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan sepakat dengan hal itu. Data yang ia miliki, surplus beras tahun lalu hampir menyentuh 7,4 ton. Sementara, produksi Januari-Mei sebesar 17,5 juta ton, dengan konsumsi nasional di periode yang sama hanya 12,3 juta ton. Artinya, masih ada surplus 5,1 juta ton. Jika ditambah surplus tahun lalu, angkanya mencapai 12,5 juta ton.

Baca juga : Lutfi Tampil Ksatria

Daniel mengapresiasi rencana ekspor Buwas. Menurutnya, hal membanggakan ini bukan hanya ditunjukkan Bulog, tetapi kekuatan produksi nasional lainnya. "Secara data sampai bulan Maret tahun ini kita masih surplus 9 juta ton beras kok," katanya. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense